Dear all
Apabila ingin membaca puisi terbaru Olin Monteiro bisa cek di:
http://menitiangin.wordpress.com
Salam puisi
Olin dan PBP
Dear all
Apabila ingin membaca puisi terbaru Olin Monteiro bisa cek di:
http://menitiangin.wordpress.com
Salam puisi
Olin dan PBP
Rekan semua,
dapatkan buku kumpulan puisi Perempuan Langit ke Timur, by Olin Monteiro di Toko BUku Perempuan, Yayasan Jurnal Perempuan.
Alamat: Jl Tebet Barat Dalam IX A no B-1,
Komplek Kejaksaan
Pas Belakang Gelael
Jakarta 12810
Telpon 83702005
www.jurnalperempuan.com
Atau di toko buku Bengkel Deklamasi (Yos Rizal Manua)
TIM
Jl. Cikini Raya
Jakarta Pusat.
Coming soon in September 2008
Perempuan Langit Ke Timur
By Olin Monteiro
Perempuan Bukan Penyair & Yayasan Jurnal Perempuan
protect me not
: nepenthes gracilis
please hide me under your roof
or not…
nurture me with your hands
or not…
yesterday,
the fire kissed burn down all the bushes
while the chainsaw murdered every shade of the forest
I am dying here, breathing the deadly air
Olin, Cibubur, 10 Mei 2007; for the beauty of nepenthes and ageless forest
……………………
potret pergulatan hidup yang beragam,
pergulatan antara romantisme, optimisme dan juga
kepasrahan (kesinisan)?. Namun sarat dengan
pemberontakan dan introspeksi yang jujur sekaligus
menantang terutama dalam puisi pendek “tak usah
sembunyi” yang sarat makna dan humanis.
Samsidar, pelapor khusus isu perempuan di Aceh, Komnas Perempuan
Dapatkan Biru Hitam Merah Kesumba
di GRAMEDIA MATRAMAN.
Sekarang… Biru Hitam Merah Kesumba sudah bisa dibeli di Gramedia Matraman.
Bagi yang belum memiliki copy buku ini harap segera mengunjungi gramedia.
Terimakasih
salam.
Olin, Perempuan Bukan Penyair
by Landung Simatupang
Terima kasih untuk kesempatan berbicara ini.
Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan tanggapan pribadi saya selaku pembaca kumpulan puisi Biru Hitam Merah Kesumba, yang berisi sajak-sajak Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta dan Vivian Idris.
Buku kecil kumpulan puisi ini dibuka oleh dua tulisan dari dua nama besar. Yang pertama Iman Budhi Santosa dan yang kedua Seno Gumira Ajidarma. Agak sulit dibayangkan bahwa orang yang sedikit saja pernah bersinggungan dengan karya sastra –berupa puisi atau prosa – tidak mengenal kedua nama itu.
Dan memang, dua tulisan mereka itu hebat-hebat tenan. Apa yang mereka kemukakan membuat beberapa hal yang semula tak tampak oleh saya – atau tidak saya antisipasi ketika saya bersiap membaca – menjadi muncul. Itu memperkaya saya dalam merenungkan dan menjalin komunikasi dengan sajak-sajak ini.
Tak hanya itu, tulisan keduanya – terutama Seno, yang juga seorang penyair yang kuat menurut saya – bikin saya agak lebih canggih dalam menghadapi kemunculan kumpulan puisi ini sebagai fenomen sosial. Sedangkan tulisan Iman Budhi Santosa di sana-sini membuat saya terperangah menyadari kecupetan, kepicikan saya sendiri dalam membaca dan berusaha berkomunikasi dengan sajak. Misalnya ketika ia membicarakan sajak Vivian Idris yang bertajuk Nimas.
Setelah pengantar dari Seno, dicantumkan pula di bagian depan buku ini email dari penyunting buku kumpulan sajak ini, Mariana Ariesetyawati.
Menyusul, sajak-sajaknya sendiri. Secara kurang lazim, sajak-sajak di kumpulan ini tak dikelompok-kelompokkan menurut siapa penulisnya. Ada empat bagian yang masing-masing diberi judul warna, yaitu Biru, Hitam, Merah, dan Kesumba. Warna-warna tersebut diupayakan muncul dan berbicara di halaman ilustrasi yang mengawali setiap bagian. Ini menarik. (Meskipun antara merah dan kesumba perbedaan begitu tipisnya sehingga – setidaknya untuk mata saya yang menua – sulit ‘terbaca’).
Bagaimana tentang sajak-sajaknya sendiri?
Di tempat pertama, sajak, khususnya kumpulan sajak, selalu cenderung mengharukan untuk saya. Mungkin ini karena saya sendiri kadang-kadang nulis sajak juga, yang bagi saya hampir selalu berarti keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri, dengan pikiran-pikiran dan perasaan yang selalu belum selesai. Dan ternyata pikiran-pikiran, perasaan-perasaan itu tidak juga bisa ditipu-tipu seolah tak ada, atau dilarut-larutkan dalam kesibukan sehari-hari, dalam rame-rame pergaulan dengan teman-teman dekat, dan bahkan dengan pergaulan intim dengan pasangan. Saya tetap diri saya sendiri yang berhadap-hadapan dengan diri sendiri.
Sebagian besar dari sajak-sajak dalam kumpulan ini saya kira terpantik dari momen demikian: momen ketika entah karena sebab apa – mungkin sangat remeh – pendaman-pendaman itu menyodok-nyodok, minta keluar, meminta wujud yang berupa bahasa, kata-kata yang lebih terpilih, tertimbang, daripada yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dan ‘bahan yang sudah terperam’ itu diungkapkan secara langsung, sehingga yang muncul memang bukan terutama cerita melainkan pernyataan-pernyataan sugestif tentang suasana pikir-dan-rasa pada momen tertentu.
Tapi pada sajak-sajak Oppie Andaresta saya lihat hal berbeda. Di antara berempat ini, Oppie adalah yang paling suka bercerita tentang orang lain, bukan dirinya sendiri. Tentang ibu yang salehah, tentang tenaga kerja wanita, tentang penjual lontong sayur, misalnya. Jadi, selain meneriakkan atau membisikkan diri sendiri, dia meneriakkan atau membisikkan orang-orang lain di sekitarnya secara lebih tegas ketimbang yang dilakukan ketiga temannya di kumpulan sajak ini.
Tapi dalam sajak-sajak demikian tentu dia ‘meledakkan’ dirinya juga. Tentu sudah bertumpuk-tumpuk bahan peledak itu dalam dirinya ketika melihat kepincangan sosial, kekejaman perlakuan terhadap pekerja perempuan, dan lain-lain. Kemudian, pada suatu momen terpantiklah itu, entah oleh apa. (Dia bisa menceritakannya sendiri nanti, kalau mau). Jadi yang kita hadapi dalam sajak-sajaknya tetap Oppie. Oppie yang bersaksi tentang kehidupan di luar dirinya. Sekaligus bersaksi bahwa personalnya ternyata tidak terpisahkan dengan ‘yang terjadi di luar diri’ itu. Artinya, dia bersaksi – meski secara tersirat bahwa dia – seperti masing-masing dari kita – harus berani berhadapan dengan diri sendiri dalam menghadapi dan menentukan sikap terhadap fenomena sosial – yang menyangkut keperempuanan maupun tidak – di sekitar. Dan jangan lupa, memilih tidak menggubris pun adalah sebuah sikap.
Bahwa keempat perempuan yang tinggal di Jakarta ini masih melakukan refleksi pribadi di sela kesibukan mereka di luar dan di dalam rumah, sungguh suatu hal yang membesarkan hati. Dan yang lebih membesarkan hati adalah bahwa mereka menerbitkan kumpulan puisi ini sebagai salah satu wujud dari refleksi itu. Bolehlah kita memberanikan diri menduga bahwa banyak perempuan lain melakukan hal serupa. Tetapi yang saya kira sangat penting juga ialah mempublikasikan ‘kesaksian-kesaksian’ mereka tentang hal itu, antara lain dengan penerbitan semacam ini. Jika itu makin banyak muncul, setidaknya ada dukungan untuk menghidupkan optimisme kita bersama.
Dengan membayangkan bahwa ibu-ibu suka berefleksi seperti mereka berempat ini, berani mendudah dan mempertanyakan hal-hal mendasar tentang kehidupan personal maupun sosial mereka, dan berani – bahkan bergairah – mengungkapkannya, generasi yang mereka turunkan semoga terbimbing pula menjadi kritis, kreatif dan – tak kalah penting – punya integritas!
Selamat!
landung simatupang
31 Maret 07
Home » Berita » Edisi-4 Th.2
Fr, 27.04.2007 - 07:29
Pojok Victory: Edisi-4 Th.2
www.tabloidapakabar.com
PUISI
Olin Monteiro
kartini, bukan sekadar
: dear kartini
bukan sekadar konde atau kebaya
di hari yang menuntut keberadaan perempuan
di antara cengkeraman iklan komestik
harga dirinya setara produk
bukan sekadar ingin pandai
puluhan anak berjejer di terasnya
menggapai cita menjadi pintar
kartini tersenyum membelai perutnya
bukan hanya menjadi ibu
berjuang sembilan bulan menjaga janin
mahalnya harga sepotong nyawa
kartini pergi bagi sang bayi
bukan hanya sekadar 21 april
ketika perempuan mulai bicara
bagi perbaikan suatu negeri
bukan sekadar mengenang kartini
selamat ulang tahun Ibunda Kartini, terima kasih atas inspirasinya
20 April 2007
Perempuan
ketika rambutnya tersibak bagai lambaian nyiur
irama nan megah turun dari langit kekuasaan
ketika sinar matanya menyapu ruangan
nada berbisik memenuhi atmosfer bumi
… dari rahimnya bermula kehidupan
… dari dadanya tercukupi dahaga
… dari sentuhannya lengkap perasaannya
… dari cintanya jiwa pun runtuh
ketika pagi hujan pujian menyambut harinya
ketika siang hujan tuntutan menghantam di pintu
ketika sore hujan harapan membabi buta
ketika malam hujan lupa membungkus sepi
… dia membawa hidup
… dia dilupakan kehidupan
olin, untuk hari perempuan, interpretasi lagu Woman - John Lennon,
8 Maret 2007
Carolina Monteiro (Olin) lahir 1971 di Jakarta. Ibu dua anak. Mulai menulis sejak SMP. Pernah bekerja dengan SET Filmworkshop membantu pembuatan film dokumenter dan film layar lebar. Sempat bekerja di berbagai LSM Perempuan dan international organizations di Jakarta dan NTT. Peneliti dan konsultan paruh waktu untuk isu pembangunan sosial dan gender. Kini bekerja di GEF SGP Indonesia dan volunteer di RAGAM Jakarta.
diambil dari www.tabloidapakabar.com
Kolom: Pojok Victory
Posted in News | No
Dear all,
Rencananya, 28 April 2007, jam 20.00, Lulu Ratna, Olin Monteiro, dibantu Feby Indirani (novelis) dan Indah Survyana (penyair muda BUMA), akan menjadi salah satu peserta dan ikutan membaca beberapa puisi berkaitan dengan tema Rumah, diacara peluncuran RUMAH KATA dan ulangtahun milis BUNGA MATAHARI. Kegiatan akan dilakukan di West Pacific, Gedung Jaya, Thamrin.
Puisi dari buku BIRU HITAM MERAH KESUMBA juga akan di ilustrasikan dan dipamerkan oleh Injun dan teman-temannya sebagai bagian dari RUMAH KATA (kegiatan perdana) - dan BUNGA MATAHARI. Rencananya ilustrasi puisi ini akan dibukukan secara independen.
Gabunglah ke milis bungamatahari@yahoogroups.com atau lihat ke www.bungamatahari.org
Sampai bertemu di sana.
PBP
Yogyakarta si kota budaya dan kota pelajar. Apakah betul?
31 Maret 2007, kami kelompok perempuan bukan penyair, menyelenggarakan diskusi buku BIRU HITAM MERAH KESUMBA dan kumpul-kumpul dengan kawan di Yogyakarta. Acara di gelar di KINOKI Yogya (bukan bioskop bukan coffeeshop) dan di organize oleh ibu Sarie, Event Organizer kami dariKomunitas Gayam yang manis dan sangat baik hati. Bahkan saya dan Lulu dijemput di stasiun kereta oleh LO kami yang manis bernama Fe (aduh Fe kamu jangan ke Jakarta ya… banyak buaya!!!).
Acara di pandu oleh Rachel (putri dari Rendra) yang ternyata ceria lucu menggemaskan total dan di moderatori oleh Elida dari Kinoki si tomboy funky yang jago nyanyi. Pembukaan dibacakan beberapa puisi oleh Ibu Anggi, komunitas gay dan PSK dan seorang model jelita dari Yogya (aduh maap sudah lupa deh namanya). Sarie… bantuin dong.
Mas Landung membuka dengan sedikit pembahasan pendapat beliau soal buku. Saya cukup kaget karena mas Landung juga membahas para penulis kata pengantar di situ. Anyway, diskusi ternyata agak kurang cair dan respond dari penanya sangat sedikit. Sayang sekali. Untungnya Elida si manis berhasil menghidupkan keadaan dengan pertanyaan dan juga pancingan yang memikat diskusi lebih lanjutnya. Bahkan mas TS Pinang penyair apsas juga lagi kalem dan suaranya hilang (ada mba di sebelahnya jadi beliau agak kalem ehemm). Mana nih para budayawan dan pelajar yang biasanya heboh.
Diskusi buku kurang sip, tanpa pembacaan puisi. Lengkap dengan musik perkusi yang keren dari Komunitas Omah Panggung dan Jembe Merdeka, para pembaca beraksi, mulai dari Ibu Anggi darI Karta Pustaka, Komunitas Gay dan PSK, komunitas waria, mas Didi Nini Thowok yang di dakwa nyinden plus menari dg trance dan seru. Lalu ada Titarubi sahabat olin yang perupa tapi mendadak jadi penyair, Naomi Srikandi (adik Rachel), Elida Kinoki si penyanyi blues, mas LAndung (tentu saja), Marzuki si rapper Yogya dan seorang cowok lucu yang baca puisi dari balik tiker (malu ya mas).
Terimakasih buat mba Sarie, Fe, Thomas, Elida, Fani Kinoki, mas Landung, Mas Didik, komunitas yang telah membantu kami dan kegiatan ini di Yogya. Ayo YOGYA… semangat dong… jangan lemot hehehe.
Olin
Rekan-rekan…
Kami mengundang anda menghadiri, ngobrol ringan tentang buku:
BIRU HITAM MERAH KESUMBA
kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair
karya: Lulu Ratna, Vivian Idris, Oppie Andaresta dan Olin Monteiro
(Komunitas Perempuan Bukan Penyair)
KINOKI, Jalan Suroto 20, Yogyakarta
Sabtu, 31 Maret 2007
Jam 15.00 - 18.00 WIB
Pembacaan Puisi oleh:
Komunitas Omah Panggung & Jembe Merdeka, Didik Nini Thowok, Titarubi & Naomi Srikandi, Anggi Minarni, Oppie dan kawan-kawan dll.
Pembahasan puisi oleh: Landung Simatupang dan Penulis buku BIRU HITAM MERAH KESUMBA.
Dapatkan doorprize buku terbatas bagi para peserta diskusi!
Salam,
Sarie
(even organizer)
hubungi: nonasarie@yahoo.com
perempuan_bukan_penyair@yahoo.co.id
www.perempuanbukanpenyair.net
……………………………………
AWAS
hari ini aku adalah panah yang lepas
menerabas jalan-jalan kota
menerbangkan debu-debu jalan
mengacaukan tenang daun-daun
menyambar api yang kusematkan di rambut-rambut kota
menari diiringi lagu kebangsaan
tuhan, bapak, ibu
-aku ingin membangkang
Vivian, Oktober 98
Oleh: Gadis Arivia
(tulisan untuk LAUNCHING BIRU HITAM MERAH KESUMBA, 6 Desember 2006)
Memang benar bahwa keempat perempuan yang menulis antologi puisi “Biru Hitam Merah Kesumba” bukan penyair mungkin lebih tepat dikatakan “penyihir”. Mereka Perempuan penyihir yang pandai menyihir dengan kata-kata. Apa yang hendak mereka sihir? Mereka mengerubuti dunia untuk disihir menjadi biru, hitam, merah dan kesumba.
Mengapa biru?
Sebab biru berbicara soal eksistensi perempuan. Eksistensi perempuan yang “Jangan kasihani aku/Aku baik-baik saja/Bernapas, bermimpi, beradaptasi/Kita jalani minggu, bulan, tahun dengan/Kita maknai dengan cara kita/bukan karena aku perempuan, tapi karena aku/ manusia” (Karena Aku Manusia, Oppie, 1998, hal.8). Perempuan bereksistensi lewat kata-kata karena dunianya harus diciptakan ulang dengan kata-kata baru maka “sambil berbaring menatap langit…apa kabar/ Ken Dedes/ lapisan imajinasiku menerawang sosoknya/ di pojokan komputer mengetik naskahnya/ jiwaku turut gelisah/Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua/Tempat banyak perempuan desa/Dianiaya, dicerca, tak bersuara/Tersiksa batinnya atas nama status istri aku juga/seorang istri…aku juga/seorang istri/Des, jangan tutup file itu/Mari menulis bersama, Des” (Teruskan Menulismu, Olin, 2006, hal.20).
Apakah yang hendak ditulis oleh perempuan? Dan mengapa perempuan memilih untuk menulis? Karena kata filsuf Perancis Jacques Derrida , perempuan ingin mendekonstruksi realitasnya, menampilkan suara “yang lain” mengenai kehidupan yang dijalani. Bukankah kehidupan selalu memakai frame work laki-laki? Sama pula dengan dunia penyair memakai frame work sastrawan yang sekolahan dengan olahan rasio, kini saatnya memakai frame work istri, frame work manusia perempuan dengan olahan emosi dan mengapa tidak? Dari olahan ini pula makna aku tersingkap; “’ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging,/seorang aku..(Puisi Ulang Tahun, Lulu, 1996, hal.34).
Seperti yang telah dipaparkan oleh keempat “penyihir” di buku bagian tulisan “Dari Kami”, mereka menyebutkan bahwa pekerjaan mereka sebagian besar telah dikapling menjadi ibu rumah tangga. Oleh sebab itu, wajar pengalaman kerumah tanggaan dan dunia kekeluargaan menjadi bagian dari pengalaman yang ingin didekonstruksi. Pengalaman wilayah domestik ini dibuat kaya oleh keempat “penyihir” dengan menampilkan makna baru pernikahan dan anak. Simak puisi berikut ini: “Maka datanglah kamu membawa seikat cinta/ dan tak lupa pepes ikan serta cincin/ yang terbuat dari semesta…/konde kecil dari rambut keriting, kebaya putih/ dari pasar beringharjo,, bibir yang bergincu…/serta wajah bahagia ayah dan ibu/ di hari kau meminang../ini bukan cerita kartun, ini kisah betulan (Lulu Nikah, Oppie, 2006, hal.30). Ekspresi tentang anak juga menjadi passion yang kuat; “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan (Anak Sayang, Vivian, 2004, hal.28).
Passion perempuan tentang anak, keluarga, suami dan kekasih tidak menghilangkan eksistensinya sebagai perempuan-manusia, tidak pula membuatnya tersesat dan menenggelamkan dirinya. “Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang (Tersesat, Lulu, 1999, hal.11).
Mengapa hitam?
Namun ternyata makna “pulang” dapat membingungkan perempuan. “Mau ke mana kita, entah mau ke mana…/Ini bukan rumahku, di mana rumahku?/Kamu tak harus pulang, kamu tak pernah pulang/Aku tak harus pulang, aku harus pulang/Aku Cuma perlu sendiri, aku perlu masuk/dan berteman dengan jiwaku lagi/Aku perlu kontemplasi, aku pulang ke rumah jiwaku..(Di sini kita, Di mana?, Oppie, 2003, hal.66). Hitam berbicara tentang kegelisahan saat menjadi Absurd (Lulu, 1992, hal.58), saat merasakan perih hidup, Kepedihanmu Milikku Juga (Olin, 2003, hal.52), saat ingin marah namun kepada siapa? Marah dan Hormon (Olin, 2005, hal.61), saat berdamai dengan Perempuan dan Gincu; Dua puluh satu lebih perempuan muda/menyumbat mulut lorong/Dua puluh satu kurang lebih umurnya/kota menawarkan terlalu sedikit dan merampas/terlalu banyak (Vivian, 2006, hal.63).
Hitam pula yang mengungkap penderitaan-penderitaan perempuan seperti si Midah; midah temanku terdampar di negeri orang/midah temanku cari makan sebagai pembantu/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku badan kecil, bernyali besar/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku…/masih saja ada anjing-anjing, yang menjilatimu/yang mengonggong parau, yang tak punya malu,/mengerjaimu, menipumu, merampokmu,/memperkosamu, mengarang aturan sialan,/sasampainya di tanah air (Terminal 3, Oppie, 2004, hal.46).
Mengapa merah-kesumba?
Pada awalnya adalah gairah. Gairah perempuan untuk “menyentuh” sekelilingnya bukan dengan logika akan tetapi dengan rasa. Merah-kesumba bercerita tentang cinta. Cinta bagaimanakah yang didambakan perempuan-perempuan 30-an yang hidup di setting urban? Cinta memiliki sejarah yang dulu pernah pula dialami oleh ibu-ibu kita. Mungkin dulu ibu-ibu kita tidak sebegitu beruntung dengan pemberontakan cinta mereka sehingga menjadi otoriter terhadap anak-anak perempuannya; ibumu lari karena tidak mau dikawinkan dengan laki-laki itu/ia lompat ke atas kapal, dan berlayar bersama/sepupunya ke Ambon./Aku lari dari rumahmu, ibu/bukan karena kau mau kawinkan/juga tidak untuk menceraikan diri/dari kita punya keluarga/Tidak usah menangis, Ibu/Mungkin Ibu berharap-harap saya tidak pergi/Tapi tak bisa lagi, Ibu/aku meneruskan ceritamu.(Aku Lari, Vivian, 1998, hal.71). Cinta adalah candu, candu untuk orgasme, bercinta siang malam, sampai habis tenaga, tempat tidur berbau cinta (Vivian, 1997, hal.78). Mampukah perempuan urban merumuskan cinta? Tampaknya sulit; Jatuh cinta memang indah/memelihara cinta itu gerah/putus cinta mau bunuh diri/jadi cinta itu aneh sekali (Mencari Cinta, Olin, 1998, hal.101).
Yang pasti, perempuan-perempuan urban berani menggunakan kebebasan berekspresi, dan bukankah kebebasan inilah yang terus menghidupi cinta? Bagaimana dengan seksualitas? Tabu seksualitas diterjang dan dijadikan puisi indah; Terlalu nyaman aku berdiam damai di/ketersembunyianku yang indah…/Merasakan sensasi dan gairah rasa/keperempuananku…/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku…(Berubah, Oppie, 1998, hal.86). Namun justeru pemikiran liar ini lah yang membuat mendesak pikiran untuk kritis pada keadaan sekitarnya seperti;
Selama empat puluh delapan purnama aku terjaga
Dari telanjang hingga kubungkus rapat badan ini,
Bersembunyi di dalamnya menjadi orang lain.
Kau paku aku sebagai permaisurimu
Di ranjang yang sesak…
lalu kau pinta restu untuk berbagi, karna tak cukup
nafsu kauumbar pada satu bini
atas nama lelaki-halal kau miliki dua tiga
dan empat…
Musikku terasa sumbang, tarianku gagap dan kaku
Aku menghirup udara dari asap dupa
Yang memabukkan,
menembus jantung dan paru-paru..
hatiku bernanah, rahimku berkerak tak bertelur,
tak ada bayi yang sudi singgah
Lalu semua kurangku menjadi pembenaran
langkahmu…
(Cerita Teman, Oppie, 2006, hal.97).
Mengapa menulis?
Menulis memberikan jeda antara apa yang dirasakan dan dituangkan. Jeda ini memberikan keleluasaan untuk menumpahkan pengalaman-pengalaman kaya yang “berbeda”. Budaya menulis membutuhkan ekstra enersi untuk merangkaikan realitas dengan perspektifnya sendiri, ini berarti berani untuk mengungkapkan karena bagaimanapun juga jejak-jejak telah ditinggalkan untuk ditelusuri kejujurannya. Budaya menulis sangat berbeda dengan budaya lisan (yang lebih banyak dianut para politisi atau penghotbah), karena kata-kata yang diumbar tidak meninggalkan jejak dan tidak dapat ditelusuri kejujurannya kecuali kalau tertangkap basah.
Selubung budaya lisan sangat melekat, tertutup rapat oleh aturan “moralitas” sedangkan modus puisi dari awal dituntut untuk terbuka dan cenderung untuk memilih pertanggungjawaban diri, tidak ada sandaran justifikasi pada siapa-siapa (apalagi partai politik atau agama tertentu) semua bersandar pada kekuatan diri sendiri. Karena tidak ada justifikasi ini lah, para penyair menurut saya terbuka untuk siapa saja, siapa saja yang tidak ingin terbelenggu dan berupaya “menyihir” dunia menjadi lebih baik.
Aku menulis
Menyita rasa dan perhatian
agar bebas lepas
dalam sebuah dunia jiwa
sebab
aku adalah sebuah puisi
selalu bernyanyi melaluinya
meredam
meredam
semua emosi yang harus meloncat keluar
menjadi titik-titik kata
dalam lukisan kalimat
panjang…
tak pernah mati
(Akulah Puisi, Lulu, 1993, hal.22).
GADIS ARIVIA adalah Pengajar filsafat dan kajian feminisme di Fakultas Ilmu Budaya, UI dan pendiri “Jurnal Perempuan”.