Yang Bukan-Penyair
Bisa Ambil Bagian
oleh SENO GUMIRA AJIDARMA
Judul buku kumpulan puisi ini adalah Biru Hitam Merah Kesumba dan perhatikanlah lanjutannya: Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair.
Perhatikan lagi, mula-mula Perempuan, kemudian Bukan Penyair.
Secara tidak produktif, ini bisa ditafsir sebagai “dua kali diskriminasi diri”: pertama, bahwa dengan sebutan “perempuan” maka mohon penakarannya sebagai puisi dibedakan dengan jenis kelamin lain yang “bukan perempuan; kedua, apalagi “bukan penyair” pula, sehingga bisa dibaca sebagai permintaan maaf, basa-basi atau tidak, bahwa puisi-puisi dalam buku ini bukanlah “puisi beneran” seperti layaknya yang akan dipertaruhkan oleh seseorang yang mengakui dirinya seorang penyair.
Dengan istilah tidak produktif, saya maksudkan bahwa mereka yang melakukan pembacaan negatif, karena istilah Perempuan Bukan Penyair tadi, akan rugi karena menghapus peluang untuk mendapatkan makna dari buku ini. Saya tidak mau rugi, maka saya lebih suka membacanya secara produktif: pertama, bahwa keempat penulis puisi-puisi dalam buku Biru Hitam Merah Kesumba ini, yakni Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta, dan Vivian Idris, memang perempuan; kedua, istilah “bukan penyair” adalah kode yang membebaskan saya untuk tidak usah mencari-cari sesuatu dalam kriteria baku estetika sastra. Sebaliknya, saya harus mendapatkan, setidaknya demi diri saya sendiri, sesuatu yang membuat puisi-puisi ini bermakna dalam pembacaan saya.
Judul buku ini, Biru Hitam Merah Kesumba, rupanya menunjukkan pula bagaimana cara buku ini disusun, yakni terdiri dari empat bagian yang masing-masing berjudul seperti warna-warna tersebut. Apakah ini warna masing-masing keempat penulis puisi? Agaknya bukan begitu, karena dalam setiap bagian terdapat puisi-puisi keempat penulis yang barangkali dianggap mempunyai kesamaan nuansa seperti yang ditunjukkan oleh warna-warna tersebut. Dengan kata lain, keempat penulis mencari kesamaan dalam perbedaan mereka ketika menyusun buku ini. Saya sendiri tidak ingin terlalu setia dengan penyusunan tersebut, dengan misalnya mencari “merah” dalam Merah, melainkan membacanya urut begitu saja, dan inilah komentar saya—yang tidak akan urut.
***
Saya pikir, sebuah puisi hanya menjadi puisi apabila dalam dirinya terdapat kejernihan, meskipun itu adalah kejernihan sebuah catatan seperti Postcard Journey yang ditulis Lulu Ratna di Amsterdam, 9 September 2003, berikut:
It’s where the wind blows
the path that I always follow
for as far as I can be
to dive the world I’ve never seen
to hug the people I long to see
just to feel not all alone
Seperti hanya catatan, tetapi kejernihan membuat nada tenang dalam permenungan itu puitik. Ini bukan berarti takboleh ada “curhat” membuncah-buncah dalam puisi. Perhatikan Rahwana yang ditulis Vivian Idris.
Rahwana. Setan Alas! Sering kutemui dia menyeruak dari dasar mimpi.
Berteriak, pekak, mengoyak kelambu malam. Menjejak air liur pada lipat-lipat
Selimut. Memaksa untuk berbagi tidur.
Terlambat untuk mengelak!
Aku kerasukan hangat tubuhnya. Meruap harumnya. Terpikat hasrat untuk tersesat. Terbayang nikmat menggeliat dalam pekat. Melekat matanya berkilat.
Napasku sarat tersengal. Sungguh mimpi keparat. Mengelabui hasrat untuk terbakar. Hangus bersamanya.
Oktober 2005
Segenap kata meluncur dan mengisi kebutuhan dengan tepat. Hanya bisa dilakukan orang yang sering menulis puisi—dan apalah kalau bukan penyair itu namanya? Namun saya tidak ingin berdebat dalam argumen kebahasaan, karena yang membuat saya juga merasa mendapat sesuatu adalah justru ketika mengenali tema-tema khas dengan idiom gender di dalamnya, tanpa peduli pembahasaannya. Oppie Andaresta misalnya menulis tentang keperawanan dalam Perawan. Dikatakannya dalam akhir puisi itu:
Bunda, apakah aku harus gelisah atau bahagia
Pegang tanganku biar aku tetap berpijak, seperti ketika kau ajari aku
melangkah dulu.
Perawan menjelang 27 tahun itu, sekarang 27 tahun, dan tidak perawan
lagi.
Dalam puisi lain, Darah Sialan, ia menulis yang hanya mungkin ditulis perempuan:
Darah sialan itu masih saja keluar
selalu tepat waktu
Tapi sekarang kacau jumlahnya
Padahal sudah mereka ambil daging kecil itu di suatu pagi di ruang berdinding putih yang dingin dan tak ramah.
Aku baik baik saja –semoga aku tak salah, katanya aku juga baik-baik saja—semoga memang baik
tak lelah dan tak dingin, dan kita punya cinta yang berujung orgasme
serta telur yang matang bagus…
tapi bulan itu terus juga datang
Mereka beriku kimia lagi, aku disuruh mengangkang
–alu mereka masukkan besi dan semprotkan cairan ke vaginaku…
aku kaku, berkeringat menahan nyeri…
Di mana kamu… datanglah ke rahimku dengan suka cita
Oktober ‘04
Saya tidak menganggap diri saya orang yang tepat untuk membicarakan wacana feminis, meskipun itu mestinya takterhindarkan dalam konteks puisi-puisi dalam buku ini—justru karena keempat penulis puisi mengaku sebagai “… kami semua adalah ibu rumah tangga yang sebagian waktu dan energi kami telah dikapling untuk kepentingan jabatan tersebut.” Namun izinkan saya untuk sekadar mencatat bahwa ternyata sampai di dalam puisi pun tiada habis masalah “tetek bengek” perempuan seperti menstruasi, keperawanan, mengandung, melahirkan, menyusui, birahi, dan tentu saja cinta tetap meninggalkan jejaknya—karena yang disebut tetek bengek ini toh bukan tetek bengek sama sekali, melainkan bagian dari keperempuanan. Apa yang mungkin boleh disebut “keperempuanan” juga terlacak dalam puisi Olin Monteiro ini.
Marah dan Hormon
Mau marah
Pada siapa harus marah
…Dia tumbuh tanpa pupuk atau penyubur
Mau jengkel
Pada siapa harus jengkel
…Dia menumpang bagai parasit menyedot darahku
Mau nangis
Pada siapa menangis
…Dia lemah berharap dari serat-serat lemakku
Mau teriak
Pada siapa berteriak
…Dia janin berkembang tanpa sadar di mana berada
Marah kepada hormon, atau kepada siapa …?
Oktober, 2005
Pertanyaannya, apakah hanya “keperempuanan” yang jadi andalan para penulis puisi ini? Pertanyaan ini penting, karena pemahaman “tradisional” yang penuh bias dari “ibu rumah tangga” adalah kegiatan yang berkutat di sekitar rumah: anak, dapur, dan gereja, kata orang Jerman. Padahal, tidakkah di rumah hanya terdapat Tikus Sialan dalam puisi Oppie Andaresta?
Tikus sialan mengobrak-abrik moodku
Tahinya ada di dekat gitarku
nada di kepalaku hilang, komputerku nyala kaku, tak keluar suaranya
tikus masih sembunyi di kamarku entah di mana
padahal aku menunggu ilham, mencari ide cemerlang
mandek lagi… selalu saja ada halangan
mungkin aku kurang mandi kembang
puri, Okt 05
Lebih serius dari sekadar tikus. Periksalah puisi Vivian Idris ini:
Sia-sia Pulang
Rumah ini sudah bukan rumah
tiang-tiangnya asing dan berpaling
langit-langitnya sinis bikin asa teriris
Padahal aku pulang untuk damai
karena diam membentur rindu
setelah waktu merawat luka
sudut ini dulu hangat merekahkan tawa
kini dingin, kelam, celaka
Berapa lamakah aku telah pergi?
Sia-sia aku pulang dengan rindu
harapan runtuh menimpa kepalaku
29.11.1997
Celaka betul bukan? Perempuan telah terlempar dari rumah dan mau tidak mau menjadi bagian dunia di luar rumahnya. Ibu rumah tangga di Jakarta tidak bisa lagi hidup hanya di dalam rumahnya sendiri. Lulu Ratna menulis dari dalam bis, Antara Cirebon-Salatiga.
Menebak kota berikut apa yang muncul
berkejaran dengan laju bis ini
berkejaran dengan waktu yang berlari
Penat berimpit kursi bus yang berdesakan
Brebes
Pekalongan
Kendal
Semarang
Pemalang
Tegal
Batang
Ungaran
Semuanya merayuku untuk singgah
mungkin di lain waktu bila ada
mereka tak hanya papan selamat datang
atau pelengkap kota yang harus dilangkahi
sekilas mengenang Cirebon yang ramai
sepintas mencoba mereka-reka Salatiga
Ah, lelahku tak sia-sia
Salatiga, 21.47 wib, 1 Januari 2006.
Demikianlah dari puisi demi puisi, terbentuk suatu dunia, bisakah disebut dunia perempuan? Jangan lupa, dunia itu juga menampung lelaki di dalamnya. Puisi Ibu oleh Oppie Andaresta atau Anak Sayang oleh Vivian Idris memang bagaikan monopoli perempuan (meski banyak juga lelaki begitu), tetapi puisi Olin Monteiro yang bagus kalau dibikin lagu ini saya kira sungguh memberi tempat lelaki, tanpa harus berarti tergantung kepadanya.
Mencari Cinta
Cinta lagi cinta lagi
kalau jauh kangen
kalau ketemu nggak bisa ngomong
gimana begini
Dari dulu sampai sekarang
yah masih sama saja
rindu dendam enggak terungkap
hari-hari jadi melilit
Jatuh cinta memang indah
memelihara cinta itu gerah
putus cinta mau bunuh diri
jadi cinta itu aneh sekali
Ada enggak ada
jadi topik pembicaraan seru
cinta itu begini
cinta itu ya begitu
Aih cinta memang hebat
sudah nyusahin
masih dibicarakan
masih pula dicari
23 Januari 1998
Dalam Criticism and Truth (1966), Roland Barthes menyebutkan tiga bentuk hubungan pembaca dengan teks, yang saya kira menjadi embrio teori tiga tahap pembermaknaannya yang terkenal. Pertama adalah science, yang membebaskan teks dari maksud pengarang; kedua, criticism, yang justru memproduksi maknanya; dan ketiga, reading, yang mengartikulasikan pemikiran, berdasarkan hubungan pembaca dan teks yang melibatkan suatu hasrat—dan yang belakangan ini berada di luar kode bahasa. Saya juga ingin membicarakan lebih banyak puisi sebetulnya, karena hasrat untuk melihat posisi baru “ibu rumah tangga” abad XXI, yang peluangnya banyak dibuka oleh puisi-puisi dalam buku ini.
Namun sebuah pengantar mestilah proporsional, yakni dalam porsi mengantar dan bukan bergaya sendiri. Cukuplah saya katakan, dengan segenap catatan ini sebetulnya terbaca betapa “dua kali diskriminasi diri” tak berlaku lagi. Bukan sekadar karena penyair lelaki “kurang beruntung” tidak menghayati pengalaman batin menstruasi, tetapi juga bahwa posisi “bukan penyair” tidaklah harus dianggap inferior berhadapan dengan superioritas kepenyairan. Standar estetik bahasa hanyalah konsensus sosial yang membela kepentingan kelas para pemegang hak eksklusif atas kata-kata. Dengan kata lain, legitimasinya boleh dibongkar dengan menawarkan konsensus lain, demi kepentingan lain—yang barangkali juga lebih inklusif. Istilah “bukan penyair” dengan begitu jelas bukan sekadar tidak inferior, melainkan tanpa sengaja terposisikan sebagai resistensi terhadap hegemoni para penyair superior yang dominan. Jika Chairil Anwar berkata: “Yang bukan-penyair tidak ambil bagian,” maka keempat ibu rumah tangga ini telah melawan mitos superioritas penyair –lelaki maupun perempuan—tersebut: “Yang bukan-penyair bisa ambil bagian.”
Secara demikianlah buku ini telah bermakna bagi saya.
Salam
Seno Gumira Ajidarma
Pondok Aren, Selasa 3 Oktober 2006. 07:54.