Menulis Puisi: Gelisah Politik (Sunyi)

R. Valentina
(untuk Launching BIRU HITAM MERAH KESUMBA 17 February 2007 di Bandung)

Awas
Hari ini aku panah yang lepas
menerabas jalan-jalan kota
menerbangkan debu-debu jalan
mengacaukan tenang daun-daun
menyambar api yang kusematkan di rambut-rambut kota
dan menari diiringi lagu kebebasan
tuhan, bapak, ibu

-aku ingin membangkang

vivian, oktober 1998

Maka Jika “Hari ini … –aku ingin membangkang”, Membangkanglah Saja… .
Dan jika esok aku masih ingin membangkang, maka membangkanglah saja… .

Tak bisa dipungkiri, membaca sebagai perempuan adalah kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Tentu saja, setiap orang berhak “membaca” sesuai dengan seleranya sendiri. Saya, dengan pengalaman pribadi dan personalitas saya, boleh jadi disentuh oleh bacaan yang satu dan tidak oleh karya yang lainnya.
Atau jikalah satu karya yang dituliskan, menyentuh pengalaman personalitas saya dan seorang kawan misalnya, kedalaman, kesan, gugatan, usikannya, belum tentulah sama.. Saya bisa saja menyukai, menikmati karya yang satu, dan kawan yang lain menyukai yang lainnya.
Demikianlah saya menikmati puisi-puisi ini. Kala membacanya, saya teringat atau tepatnya diingatkan tentang sebuah peristiwa yang menyangkut pengalaman saya. Pada bacaan yang satu, dahi saya berkerut, pada bacaan yang lain saya dibuatnya tersipu, sedih, tersenyum, atau bahkan berseru “waduh…”

Ada banyak hal yang merona dari tiap kata, susunan kata, bunyi saat saya membacanya, dan tentu saja: pengalaman, hidup, pikiran, dan tubuh saya.

Bagi kaum feminis, politik memang sebuah domain yang tidak dikotomis dengan domain “tidak politk”. Salah satu prinsip feminisme adalah “personal is political”. Dalam phrase ini terkandung makna yang sangat luas, diantaranya misalnya bagaimana pengalaman-pengalaman dan suara perempuan hadir dalam masyarakat sebagai sebuah upaya politik mengubah relasi yang tidak adil yang menimpa kaum perempuan. Disinilah kita diyakinkan bahwa pengalaman setiap perempuan memiliki kekhasannya sendiri, personalitasnya sendiri. Pengalaman menstruasi, memliki payudara, vagina, setiap perempuan, adalah pengalamannya yang sangat personal.

Siapakah yang paling bisa memahaminya, selain dia sendiri?

Bicara, menulis, berekspresi, dengan demikian adalah sebuah kerja politik dalam kerangka mengubah struktur yang menindas menjadi relasi yang adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki. Perempuan sudah seharusnya merayakan kemerdekaannya sebagai perempuan… membuka pedih……..luka…tawa…tangis…kesesakan demi kesesakan..kegelisahan…, bahkan “naik turun” pengalamannya….

Michel Foucalt, filsuf mazhab poststrukturalis, mengatakan bahwa bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia. Maka bicara bahasa tidak dapat dilepaskan dari hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi masyarakat. Disadari atau tidak, dalam masyarakat patriarki, pihak perempuanlah yang mengalami kelangkaan kekuasaan (lack of power). Maka untuk memperbaiki struktur masyarakat yang lebih adil, strategi yang harus ditempuh perempuan adalah bicara. Menurut Foucalt, untuk melawan struktur yang ada tidak adil pada perempuan, perempuan harus menjadi “subjek yang berbicara”yang juga berarti “subyek dari pernyataan”. Seperti yang dikatakan feminis Helen Cixous-feminis Prancis, sangat penting bagi perempuan memecah kebisuan teks dengan melancarkan strategi yaitu bicara dan menulis. (Jurnal HerStory, Edisi Maret 2002, Institut Perempuan)

Oleh karenanya, bukanlah hal yang mengherankan jika bahkan dalam “kesederhanaan” (baca: “kesunyiaannya”)nya, apa yang dilakukan perempuan bisa diinterpretasikan sebagai “pembangkangan”, “hari ini”. Dengan kata lain, tak apa jika:
“… .
Dan
biarkan puisi ini terus menerus menuliskan gejolaknya
sampai zaman lupa waktu
lupa…
bahkan sampai aku mati

Puisi adalah kehidupanku
puisi itu hidup!”

“Akulah Puisi”, lulu, 9 September 1993

Dengan bicara dan menulis, perempuan membangun hidupnya, pengetahuannya, meneguhkan pengalamannya…membangun persaudarian…mempengaruhi dunia…mengubah dunia… membangkang…
“… .

Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua
Tempat banyak perempuan desa
Dianiaya, dicerca, tak bersuara
Tersiksa batinnya atas nama status istri…aku juga
seorang istri
… .”

“Teruslah Menulismu”, olin, februari 2006

Dalam kesunyian saya, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kerja empat perempuan yang memilih menamakan mereka sebagai “perempuan bukan penyair” ini sebagai sebuah kerja politik yang “sunyi”. Namun dalam kesunyian inilah kemungkinan besar, setidaknya bagi saya, saya diperkenankan mengundang “hidup” dengan suka cita… .:

“… .
Di mana kamu… datanglah ke rahimku
dengan suka cita

“Darah Sialan”, oppie, oktober 2004