MENITI WARNA-WARNI KISAH DAN IMAJI
DALAM PUISI-PUISI: VIVIAN, LULU, OLIN, DAN OPPIE.
Oleh Iman Budhi Santosa
Pada suatu siang yang panas di pertengahan bulan Juli, ketika sedang membolak-balik naskah cerita anak yang akan diterbitkan oleh sebuah penerbit lokal Yogyakarta, tiba-tiba HP saya berdering. Ada pesan singkat masuk, di mana pengirimnya belum saya kenal. Yang menarik, pesan itu disampaikan menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah “yang baik dan benar”. Kata-katanya ditulis lengkap, utuh, tanpa banyak disingkat seperti kebanyakan SMS sekarang. Penulisannya runtut, tertib, tidak serampangan. Artinya, memakai titik koma serta tanda baca sebagaimana lazimnya menulis surat. Meskipun singkat terdapat salam buka, pemaparan isi, juga penutup. Pemilihan dan penempatan kata-katanya tepat. Susunan kalimatnya rapi, sehingga maknanya mudah dimengerti. Penyampaiannya pun terasa santun, penuh tata-krama, menggunakan unggah-ungguh yang bersumber pada adat tradisi budaya etnis di Tanah Air kita. Dengan penulisan seperti itu terkesan pengirimnya telah memiliki visi dan kemampuan yang bagus mengenai seleksi informasi yang akan disampaikan dan bagaimana menyampaikannya lewat kalimat-kalimat singkat, padat, jernih, sehingga tak membuat layar HP menyerupai tembok kota yang penuh coretan, atau koran, radio, atau televisi yang sering tumpang tindih dalam mengemas iklan dan informasi. Dan terakhir, mereka – karena pengirim SMS mengatasnamakan empat sekawan dan semuanya perempuan – mencantumkan nama masing-masing. Lengkap dan jelas. Tanpa embel-embel gelar yang menjadi penyangga identitas, status dan sebagainya, dan sebagainya. Agaknya, mereka benar-benar ingin hadir dan diterima sesuai kodratnya sebagai perempuan saja; tak lebih dan tak kurang.
Garis besarnya, SMS tersebut berisi semacam permohonan sekaligus undangan. Konon, mereka akan punya hajat dan saya diundang untuk menghadiri, atau ngestreni hajat tadi. Mengenai wujud dari hajat tersebut, dengan rendah hati mereka mengatakan, yaitu menerbitkan sebuah antologi puisi karya empat sekawan ini. Dua minggu kemudian, lagi-lagi di siang yang panas ketika saya sedang menemani tetangga sebelah merenovasi rumahnya yang retak akibat gempa, seorang kurir surat datang menyerahkan amplop tebal warna coklat. Isinya draft manuskrip antologi puisi berjudul: Biru Hitam Merah Kesumba karya kuartet perempuan Ibukota itu: Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta, dan Vivian Idris.
Malam harinya, mulailah saya mencoba bersilaturahmi dengan bayi-bayi puisi yang lahir dari gua-garba kreativitas mereka. Setapak demi setapak beranjak menyusuri relung labirin kata yang dibangun, mendedah, memahami serta mengurai simpul makna yang dikandungnya. Semoga lewat rasa aroma yang sengaja atau tak sengaja dihadirkan dalam totalitasnya, dari pesan kesan yang dibisikkan, dari sekian banyak kisah peristiwa yang tergambar, dari lekuk-liku pengalaman batin mereka yang berkelebat-kelebat melintas, dari warna-warni nuansa serta permainan imaji yang mengusung luapan perasaan dan hati mereka, dapat dipungut “sebutir dua butir biji sawi” yang manakala ditebar, disemai, diserahkan kembali pada alam dan habitatnya, akan tumbuh sebagaimana kodratnya menjadi Brassica rugosa baru yang bakal menemukan manfaatnya bagi kehidupan ini kelak kemudian hari.
Kesan pertama menikmati antologi puisi Biru Hitam Merah Kesumba, rasanya seperti benar-benar berkunjung ke sebuah rumah mungil yang indah, tapi letaknya entah di mana. Yang jelas, masih di Indonesia. Mungkin di Jakarta, mungkin pula di kota lain. Rumah itu dihuni pemiliknya, yaitu empat orang perempuan sebaya yang belum pernah saya kenal. Meskipun keempatnya bukan saudara kandung, tetapi mereka memiliki ikatan batin yang erat dan rumah itupun telah menjadi home bagi mereka. Di ruang tamu yang nyaman, teduh, keempatnya menerima saya. Seperti halnya orang baru, sambil berbincang-bincang saya mengamati bangunan rumah, arsitekturnya, hiasan serta perabotan yang ada di sana. Berlanjut pada dandanan yang dikenakan mereka, aksesori, tutur kata, juga perilakunya. Dari apa yang saya temui, baik yang tersirat maupun tersurat, suasana rumah dan penghuninya tak menunjukkan tanda-tanda khas. Misalnya, yang dapat menjadi petanda dari mana mereka berasal, apa pekerjaan mereka, pendidikan mereka, cita-cita mereka, dan selanjutnya. Yang tampak hanyalah keterbukaan, keramahan, kearifan, serta semangat persahabatan yang tulus antar manusia. Beberapa waktu kemudian mereka pun menyajikan hidangan yang berbeda-beda, yang katanya dibuat sendiri-sendiri oleh mereka. Nah, sehabis mencicipi hidangan mereka itulah saya baru menemukan awal kata yang (mungkin) memadai untuk menyemarakkan silaturahmi pertama saya dengan mereka.
* * *
Buah tangan pertama yang saya cicipi adalah karya Vivian Idris yang judulnya memiliki nuansa Jawa yang sangat kental: Nimas. Sajak ini sederhana, namun mengandung makna yang dalam mengenai hubungan batin laki perempuan. Kekuatannya terletak pada pemilihan dan penggunaan simbol-simbol sugestifnya serta model pencitraan batin (nonvisual) yang ditempuh guna mendukung terciptanya asosiasi dan suasana magis dalam sajak. Di sini agaknya Vivian ingin menggambarkan kesakralan cinta dan kasih sayang yang melandasi persenggamaan suami isteri sehingga membuahkan janin bayi. Sebagaimana lazimnya budaya perempuan Timur, Vivian lebih melihat peristiwa itu sebagai penyatuan roh laki-laki perempuan, dan bukan sekadar memenuhi tuntutan nafsu badaniah belaka. Dan manakala keduanya mampu memasuki (mencapai) tataran nonragawi itu, masing-masing akan melihat (dan mengetahui) hakikat dari penyatuan tersebut.
Proses itu dimulai ketika sang laki-laki (sebagaimana tradisi Jawa di mana laki-laki lebih banyak memimpin) membisikkan ajakan (ajarannya): “Berikan kepada malam matamu, Nimas!/Akan diciptakannya bintang-bintang untukmu”//. Memberikan mata pada malam, dapat diartikan sebagai menggunakan mata batin; bukan lagi mata kasar. Dengan demikian, meskipun terpejam atau berada dalam kegelapan, segalanya akan tampak, termasuk arti makna yang tersembunyi di dalamnya. Mengapa hal itu diperlukan dalam persenggamaan suami isteri, karena menurut ajaran kebatinan Jawa hubungan tersebut harus dilakukan dengan intens, santun, dan penuh tatakrama. Sedikit banyak dilarang (ditabukan) melakukan hal-hal yang vulgar atau berlebihan. Sebab, ada kepercayaan yang menyatakan bahwa seluruh nilai perilaku hubungan tersebut langsung tak langsung dapat mengimbas kepada sifat dasar janin bayi yang bakal hadir menjadi buah cinta keduanya.
Meskipun demikian, saya tidak tahu pasti apakah Vivian sengaja mengangkat fenomena ajaran kejawen di balik hubungan suami isteri itu, atau justru karena terpukau oleh ritualisasi peristiwanya yang demikian mendebarkan. Tatkala sepasang manusia “menari mengikuti liukan angin yang menyibakkan rambut/kita, jubah kita, dan membuyarkan susunan kertas-kertas…/Lalu kita berkejaran dengan malam dan nyanyian burung hantu yang mengundang bulan//. Yang menarik, ternyata Vivian juga terkesan melestarikan pandangan tradisional, bahwa keinginan memperoleh anak datangnya lebih besar dari fihak laki-laki. Atau, nyaris menjadi hak laki-laki. Sedangkan perempuan selalu difahami sebagai “empu” yang mengandung dan melahirkan bayi semata. Samar-samar pemahaman itu tersirat pada dua larik terakhir sajak ini: “Aku simpan gambar-gambar itu, Nimas!/Untuk jadi bingkisan pada minggu keempat puluh”//. Demikianlah seperti yang banyak terjadi, laki-laki akan sangat berterima kasih (yang disimbolkan sebagai: memberi bingkisan) pada isterinya karena telah memberikan anak, di mana nilai dirinya sebagai bapak akan terwujud, dan nilai isterinya sebagai ibu juga terpenuhi.
Sajak Vivian yang lain, yang masih menggarap seputar anak adalah: Anak Sayang. Lagi-lagi dengan ungkapan yang lembut imajinatif, ia menggambarkan bagaimana seorang ibu menina-bobokan anak kesayangannya. Sajak ini akan terasa lebih menarik jika dikaitkan dengan sajak Nimas di atas. Persoalannya, Vivian seakan meneguhkan bahwa anak yang dikandung perempuan sesungguhnya adalah “tamu”. Satu dari sembilan bulan (purnama) yang hidup menjadi tamu dalam rahimnya. “Dengar ceritaku tentang sembilan purnama/dan satu hidup jadi tamu dalam rahimku”//. Meskipun anak baginya adalah tamu, namun akhirnya dialah yang paling bertanggung jawab mengasuhnya; bukan laki-laki yang “mengirimkan rembulan yang menjadi tamu dalam rahimnya” tersebut. Dengan penuh tanggung jawab si ibu akan mengatakan: “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan”//. Lewat kedua sajak di atas, Vivian telah mencoba membuat gambaran yang kreatif serta berani membuat pernyataan mengenai keberadaan anak dalam kehidupan suami isteri. Memang, pola pikirnya tidak terlampau baru, namun dari sana samar-samar kita seperti diingatkan bahwa ada sekian banyak nilai kearifan lokal yang sadar tak sadar masih berakar dalam diri kita dan diam-diam juga menjadi acuan hidup kita bersama. Seperti pernah dinyatakan Darmanto Jatman dalam puisinya yang berjudul Anak, bahwa: “anak bagai buah sukun yang menentukan tinggi rendahnya mutu kita sebagai pohon/anak adalah buah mangga yang menentukan layak tidaknya kita menjadi pohonnya”//.
Berbeda dengan puisi Vivian yang cenderung “diam” dan mengandalkan imaji-imaji sugestif yang individual, puisi Lulu Ratna terkesan lebih meledak keluar (atraktif). Tanpa harus mengetahui latar belakang pribadi dan pekerjaannya, dapat dibayangkan jika puisi-puisi dia lahir dari sekian banyak perjalanan, pertemuan dengan banyak orang, serta persentuhan maupun tarik-menarik nilai demi nilai yang ditemui di luaran. Meskipun demikian, ternyata Lulu tidak ingin menceritakan realitas di luaran tersebut secara an sich, melainkan semua yang dipungutnya lebih digunakan untuk landasan atau batu loncatan merenungkan, sekaligus cermin dalam menerjemahkan apa yang sedang berkelebat-kelebat dalam batinnya.
Dan di sanalah agaknya dia menemukan berbagai dimensi “Lulu” yang dicarinya selama ini. Salah satunya seperti dalam sajak yang berjudul: Tersesat. “Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang”//. Benar, hampir semua perjalanan akan berbahaya, menyesatkan, jika diri kita larut ke dalam riak-gelombang yang berdatangan menerpa. Luar biasa, dengan impresif dia berhasil menyodorkan sebuah snapshot kecil tentang seseorang (tentunya perempuan) yang lolos dari suatu permasalahan hidup yang gawat. Dan dahsyatnya ia menyelipkan salah satu matra yang (mungkin) dicuplik dari faham eksitensialisme. Yaitu, yang dimaksud pulang ternyata bukan ke rumah, atau ke orang tua, ke suami, melainkan “kembali ke diri sendiri”. Di sini tampak sekali bahwa rumah bagi aku adalah diriku. Bangunan rumah seperti yang kita kenal dan kita tempati selama ini hanyalah semacam “rumah kos” belaka.
Beberapa sajak Lulu yang lain banyak yang memiliki tema serta nuansa seperti sajak di atas. Dalam My Salvation misalnya. Dengan eksplisit di larik akhir sajak itu dia membuat pengakuan, “bahwa aku masih bisa diselamatkan/dari diriku sendiri”//. Jika pada sajak tersesat, diriku pada hakikatnya juga rumahku, pada sajak ini Lulu menunjukkan bahwa: diriku bisa juga menjadi musuhku. Lebih nyata lagi bagaimana dia mencoba mengartikan “aku” pada Puisi Ulang Tahun. Jelas dan tandas ia menulis: “ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging/seorang aku…”//. Di sini ia melihat, aku disamakan, dimaknai sebagai puisi. Persis dalam sajak Akulah Puisi di mana dengan agak verbal Lulu menyatakan bahwa puisi, hidup, dan aku nyaris adalah satu. Oleh karena itu “Puisi adalah kehidupanku/puisi itu hidup!”//. Dalam setiap perjalanan atau pengembaraan (baik fisik atau rohani) sering menyebabkan kebingungan, karena seolah di sana tak ditemukan apa yang dicari, atau tak ada apapun yang dapat dimaknai. Dalam situasi seperti itu, dengan tegar Lulu menuliskan rasa kesia-siaannya, sekaligus cara mengatasi kesia-siaan itu, dalam sajak Di Hari Aku Mengetahuinya. “Ya aku terpuruk, tapi belum kalah/begitu banyak drama dalam hidupku, tercipta olehku sendiri kebanyakan….//. Ya, hidup memang dapat kita permainkan. Karena itulah kita harus pandai-pandai menemukan permainan baru dalam memaknai kehidupan agar tak terjadi rasa sia-sia dan frustasi berkepanjangan. Mungkin caranya sederhana, seperti dibisikkan Lulu: “ah, hari senin besok masih akan ada hasil tes hepatitis!” Artinya, ada jutaan titik di celah kita melangkah yang terlewati begitu saja. Jika pada suatu saat memerlukan, ada baiknya jutaan nilai yang bertebaran itu kita cermati, dan dimunculkan ke permukaan untuk memberikan arti pada segala macam hiruk-pikuk yang kita hadapi.
Tak jauh berbeda dengan Lulu Ratna, sajak Olin (Carolina Monteiro) juga banyak mengekplorasi momen-momen yang ditemui dalam dinamika kehidupan nyata di masyarakat. Yang sedikit membedakan, jika Lulu berkutat dengan masalah kedirian, Olin justru berusaha menerjemahkan fenomena di luaran itu sebagaimana adanya. Lewat penyerapan mata batinnya ia merekam, memvisualkan banyak realitas dan peristiwa, seperti: “bapak tua shalat maghrib di bantaran sungai/ rombongan kelelawar bermigrasi ke utara/ sampai perbatasan riau jambi/ (Muara Gambok), atau “di dedaunan kelapa coklat/debu berkejaran/serambi kayu tua termangu// (Meniti Angin), atau: “bicara pada bukit-bukit Timor/berdiri songsong masa baru/gejolak rasa merdeka/desa-desa berjuang lelah…”/ (Kepada Bukit di Timor). Dan selanjutnya, lewat kesan kenangan yang ia peroleh, Olin menyisipkan gumam-gumam kecilnya yang dalam keadaan biasa tak mungkin menemukan saluran tepat untuk mengungkapkannya. Puisi Olin nyaris memainkan konfigurasi dan artikulasi seperti itu. Bahwa lewat kata, imaji, perlambangan, asosiasi, dan suasana puisinya ia menyebarkan makna dan kesimpulan-kesimpulan kecil di sana-sini. Olin ibarat seseorang yang tengah membuat taman dan menanaminya dengan bunga warna-warni, namun selanjutnya dia malah memilih menjadi capung yang berseliweran terbang menikmati kenyamanan taman itu.
Puisi-puisi Olin meskipun kata-katanya terkesan lugas dan verbal, cukup menarik juga ketika dengan enteng mengungkapkan: “Disingkapnya kain tenun kakinya memar kebiruan darah mengering/kepedihan itu jadi milikku sekarang” (Kepedihanmu Milikku Juga). Simak juga cara dia meluapkan kejengkelan yang unik pada larik ini: ”Mau jengkel/Pada siapa harus jengkel/…Dia menumpang bagai parasit menyedot darahku” (Marah dan Hormon). Cara Olin memainkan imaji dan memindahkan perhatian pembaca dari pengertian satu ke pengertian lainnya terasa plastis, segar. Tak terkesan dibuat-buat atau dilebihkan, kendati kadang bernada getir dan pahit. Begitu besarnya kecenderungan Olin untuk memainkan beragam temuan (atau pendapat) sempat mendorongnya sampai pada eksperimentasi membangun semacam teks-teks jargon yang puitis. Buktinya Olin sempat menulis dengan gaya “puisi mbeling” yang dulu pernah diletikkan oleh Remy Silado dan kawan-kawan. Contohnya: “Aih cinta memang hebat/sudah nyusahin/masih dibicarakan/masih pula dicari”// (Mencari Cinta).
Meskipun masih perlu diasah, dari larik-larik sajak Olin – paling tidak bagi saya – mengisyaratkan adanya ketangkasan dalam memahami dengan cepat bermacam aspek dan situasi di sekitar. Coba nikmati sejenak imaji yang dibangun ini: “Dan hari minggu menjadi senyap/Ketika hidup penuh dengan awan-awan malas” kemudian bergayut dengan larik akhir sajak: “Lewati sudut kosmos yang nelangsa/Ketika cinta tertulis dengan anehnya”/(Masa yang Berubah). Dengan caranya yang unik, Olin telah mengajak kita melakukan semacam pengembaran metafisik. Keluar masuk pengalaman demi pengalaman dalam khasanah jagat cinta yang rumit, kadang konyol, namun juga indah dan menggetarkan. Dengan enteng pula ia menempelkan sekian banyak fakta – sebagaimana informasi di koran – untuk mengganggu ketenangan mereka yang melintas. Hingga mau tak mau mereka pun berpaling dan berhenti sejenak, kemudian mencoba tahu: lukisan apa yang ingin disampaikan lewat rangkaian kata-kata Olin itu?
Sajian terakhir yang saya nikmati adalah puisi karya Opie Andaresta. Sebagaimana puisi Vivian, Lulu, dan Olin, puisi Oppie memiliki potensi yang lain lagi. Dibanding karya ketiga sahabatnya, sajak-sajak Oppie terkesan yang paling kaya isi, imaji, serta paling rame mengutarakan kisah-kisah kehidupan yang ingin dipanggungkan. Seperti: “Kekasih gelapku…kekasih dalam hatiku…/Terlalu malu aku untuk kecewa karenamu”/(Kekasih), atau: “Terlalu nyaman aku berdiam damai di ketersembunyianku yang indah/Merasakan sensasi dan gairah rasa keperempuananku/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku”/ (Berubah), kemudian lagi: “Lihatlah, para lelaki, bergegas ambil posisi selepas azan/betapa indah mereka, saat khusyu dan memasrahkan diri padaNya/perempuan di sampingku ucapkan salam dan menjabat tanganku/aku ada dan nyata….”// (SMS Dikie).
Dalam puisi Oppie, realitas kehidupan tampak demikian nyata, verbal, mengalir sebagaimana dimaui penulisnya. Seolah dia tak berpretensi untuk mengatur, menata dengan teknik dan pola yang lazim, melainkan ingin semua itu dijadikan kerangka buat dirinya bermain, memamerkan pesan dan keindahan yang hendak dikomunikasikan. Bagi saya, puisi Oppie terkesan seperti sebuah sarang laba-laba. Sementara si laba-laba tidak tinggal (berada) di dalam sarang tersebut, tetapi tinggal di luarnya agar dirinya bebas mengekspresikan kepuisiannya. Seperti peribahasa Cina yang mengatakan: “Ulat sutera menenun kepompong dan tinggal di dalamnya, karena itu dia terkurung; sedangkan laba-laba menenun sarang dan tinggal di luarnya, karena itu dia bebas”.
Ekspresivitas puisi Oppie terasa menonjol dan kuat lantaran dia sengaja mengusung cuplikan-cuplikan peristiwa hidup keseharian yang juga akrab dan dirasakan banyak orang. Contohnya, bagaimana pun setiap orang (laki perempuan) akan mengalami kegelisahan menjelang pernikahannya. Kasus ini dipaparkan Opie dengan nada dan suasana hati keperempuanannya yang khas. “Di sini aku belajar hidup lagi dengan peran baruku yang perempuan/Bunda, apakah aku harus gelisah atau bahagia/Pegang tanganku biar aku tetap berpijak, seperti ketika kauajari aku melangkah dulu…”/Perawan menjelang 27 tahun itu, sekarang 27 tahun, dan tidak perawan lagi” (Perawan). Perhatikan juga gambaran situasi yang nyaris nyata dalam: “musikku tak lagi sumbang, tarianku ringan…/aku lepas tak terbatas, tak usah waras,/tak perlu kesadaran tak butuh aturan…aku ingin hidup…/lalu aku menyanyi keras-keras, berputar cepat/tertawa panjang, merokok seribu batang, bangun siang dan tak lupa doa…”/(Cerita Teman).
Demikianlah selintas silaturahmi saya dengan puisi-pusi Vivian, Lulu, Olin, dan Oppie. Bukannya mengada-ada jika setelah menikmati karya-karya mereka saya berani mengatakan bahwa dalam diri mereka tampak adanya bakat kepuisian yang terpendam. Di sana-sini terasa mereka telah menemukan “simpul-simpul pesan” dan memaparkannya dengan ungkapan puitik yang indah dan bermakna. Hanya saja, orisinalitas pembahasaan mereka masih perlu diasah dan ditingkatkan. Ibarat dawai gitar atau biola, tegangannya perlu disesuaikan dengan denting garpu tala agar diperoleh nada dasar yang tepat seperti diinginkan. Jadi, sebenarnya mereka tak perlu merendah dengan memberi label kumpulan ini: “Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair”. Karena, menulis puisi bukannya monopoli penyair. Puisi boleh ditulis oleh siapa saja, dipersembahkan pada siapa saja, dan juga digunakan untuk apa saja.
Secara pribadi saya “angkat topi” pada empat sekawan ini yang mulai merambahkan kreativitasnya ke dunia puisi. Satu-satunya genre sastra (dan kesenian) yang tak menjanjikan apapun bagi kreatornya, kecuali sunyi dan kearifan yang hakiki. Mungkin, semangat menulis puisi sama halnya elan vital para guru, yang rela memberikan apapun yang dimiliki pada murid-muridnya. Agar murid-murid itu nanti dapat menyadari bahwa kehidupan sungguh terlalu besar untuk dijadikan objek penelitian keilmuan melulu, dan juga terlampau agung untuk tidak diakui dan dirayakan dengan kata-kata yang membuat setiap manusia menemukan dan merasakan bermacam nilai, keindahan, dan kebebasannya.
Konon, kata T.S. Eliot, puisi sejati itu sudah berkomunikasi sebelum dimengerti. Sedangkan menurut Joseph Roux, puisi adalah kebenaran yang sedang berhari minggu. Dan untuk antologi Biru Hitam Kesumba Merah (Merah Hitam Biru Kesumba) ini, mungkin Vivian, Lulu, Olin dan Oppie perlu merenungkan ucapan tokoh nasional kita Haji Agus Salim (alm): “Jangan dipuji suatu hari sebelum datang maghribnya.”
Demikian, semoga bermanfaat. Salam kreatif.
Yogyakarta, 3 Agustus 2006