by Landung Simatupang
Terima kasih untuk kesempatan berbicara ini.
Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan tanggapan pribadi saya selaku pembaca kumpulan puisi Biru Hitam Merah Kesumba, yang berisi sajak-sajak Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta dan Vivian Idris.
Buku kecil kumpulan puisi ini dibuka oleh dua tulisan dari dua nama besar. Yang pertama Iman Budhi Santosa dan yang kedua Seno Gumira Ajidarma. Agak sulit dibayangkan bahwa orang yang sedikit saja pernah bersinggungan dengan karya sastra –berupa puisi atau prosa – tidak mengenal kedua nama itu.
Dan memang, dua tulisan mereka itu hebat-hebat tenan. Apa yang mereka kemukakan membuat beberapa hal yang semula tak tampak oleh saya – atau tidak saya antisipasi ketika saya bersiap membaca – menjadi muncul. Itu memperkaya saya dalam merenungkan dan menjalin komunikasi dengan sajak-sajak ini.
Tak hanya itu, tulisan keduanya – terutama Seno, yang juga seorang penyair yang kuat menurut saya – bikin saya agak lebih canggih dalam menghadapi kemunculan kumpulan puisi ini sebagai fenomen sosial. Sedangkan tulisan Iman Budhi Santosa di sana-sini membuat saya terperangah menyadari kecupetan, kepicikan saya sendiri dalam membaca dan berusaha berkomunikasi dengan sajak. Misalnya ketika ia membicarakan sajak Vivian Idris yang bertajuk Nimas.
Setelah pengantar dari Seno, dicantumkan pula di bagian depan buku ini email dari penyunting buku kumpulan sajak ini, Mariana Ariesetyawati.
Menyusul, sajak-sajaknya sendiri. Secara kurang lazim, sajak-sajak di kumpulan ini tak dikelompok-kelompokkan menurut siapa penulisnya. Ada empat bagian yang masing-masing diberi judul warna, yaitu Biru, Hitam, Merah, dan Kesumba. Warna-warna tersebut diupayakan muncul dan berbicara di halaman ilustrasi yang mengawali setiap bagian. Ini menarik. (Meskipun antara merah dan kesumba perbedaan begitu tipisnya sehingga – setidaknya untuk mata saya yang menua – sulit ‘terbaca’).
Bagaimana tentang sajak-sajaknya sendiri?
Di tempat pertama, sajak, khususnya kumpulan sajak, selalu cenderung mengharukan untuk saya. Mungkin ini karena saya sendiri kadang-kadang nulis sajak juga, yang bagi saya hampir selalu berarti keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri, dengan pikiran-pikiran dan perasaan yang selalu belum selesai. Dan ternyata pikiran-pikiran, perasaan-perasaan itu tidak juga bisa ditipu-tipu seolah tak ada, atau dilarut-larutkan dalam kesibukan sehari-hari, dalam rame-rame pergaulan dengan teman-teman dekat, dan bahkan dengan pergaulan intim dengan pasangan. Saya tetap diri saya sendiri yang berhadap-hadapan dengan diri sendiri.
Sebagian besar dari sajak-sajak dalam kumpulan ini saya kira terpantik dari momen demikian: momen ketika entah karena sebab apa – mungkin sangat remeh – pendaman-pendaman itu menyodok-nyodok, minta keluar, meminta wujud yang berupa bahasa, kata-kata yang lebih terpilih, tertimbang, daripada yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dan ‘bahan yang sudah terperam’ itu diungkapkan secara langsung, sehingga yang muncul memang bukan terutama cerita melainkan pernyataan-pernyataan sugestif tentang suasana pikir-dan-rasa pada momen tertentu.
Tapi pada sajak-sajak Oppie Andaresta saya lihat hal berbeda. Di antara berempat ini, Oppie adalah yang paling suka bercerita tentang orang lain, bukan dirinya sendiri. Tentang ibu yang salehah, tentang tenaga kerja wanita, tentang penjual lontong sayur, misalnya. Jadi, selain meneriakkan atau membisikkan diri sendiri, dia meneriakkan atau membisikkan orang-orang lain di sekitarnya secara lebih tegas ketimbang yang dilakukan ketiga temannya di kumpulan sajak ini.
Tapi dalam sajak-sajak demikian tentu dia ‘meledakkan’ dirinya juga. Tentu sudah bertumpuk-tumpuk bahan peledak itu dalam dirinya ketika melihat kepincangan sosial, kekejaman perlakuan terhadap pekerja perempuan, dan lain-lain. Kemudian, pada suatu momen terpantiklah itu, entah oleh apa. (Dia bisa menceritakannya sendiri nanti, kalau mau). Jadi yang kita hadapi dalam sajak-sajaknya tetap Oppie. Oppie yang bersaksi tentang kehidupan di luar dirinya. Sekaligus bersaksi bahwa personalnya ternyata tidak terpisahkan dengan ‘yang terjadi di luar diri’ itu. Artinya, dia bersaksi – meski secara tersirat bahwa dia – seperti masing-masing dari kita – harus berani berhadapan dengan diri sendiri dalam menghadapi dan menentukan sikap terhadap fenomena sosial – yang menyangkut keperempuanan maupun tidak – di sekitar. Dan jangan lupa, memilih tidak menggubris pun adalah sebuah sikap.
Bahwa keempat perempuan yang tinggal di Jakarta ini masih melakukan refleksi pribadi di sela kesibukan mereka di luar dan di dalam rumah, sungguh suatu hal yang membesarkan hati. Dan yang lebih membesarkan hati adalah bahwa mereka menerbitkan kumpulan puisi ini sebagai salah satu wujud dari refleksi itu. Bolehlah kita memberanikan diri menduga bahwa banyak perempuan lain melakukan hal serupa. Tetapi yang saya kira sangat penting juga ialah mempublikasikan ‘kesaksian-kesaksian’ mereka tentang hal itu, antara lain dengan penerbitan semacam ini. Jika itu makin banyak muncul, setidaknya ada dukungan untuk menghidupkan optimisme kita bersama.
Dengan membayangkan bahwa ibu-ibu suka berefleksi seperti mereka berempat ini, berani mendudah dan mempertanyakan hal-hal mendasar tentang kehidupan personal maupun sosial mereka, dan berani – bahkan bergairah – mengungkapkannya, generasi yang mereka turunkan semoga terbimbing pula menjadi kritis, kreatif dan – tak kalah penting – punya integritas!
Selamat!
landung simatupang
31 Maret 07