by Landung Simatupang
Terima kasih untuk kesempatan berbicara ini.
Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan tanggapan pribadi saya selaku pembaca kumpulan puisi Biru Hitam Merah Kesumba, yang berisi sajak-sajak Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta dan Vivian Idris.
Buku kecil kumpulan puisi ini dibuka oleh dua tulisan dari dua nama besar. Yang pertama Iman Budhi Santosa dan yang kedua Seno Gumira Ajidarma. Agak sulit dibayangkan bahwa orang yang sedikit saja pernah bersinggungan dengan karya sastra –berupa puisi atau prosa – tidak mengenal kedua nama itu.
Dan memang, dua tulisan mereka itu hebat-hebat tenan. Apa yang mereka kemukakan membuat beberapa hal yang semula tak tampak oleh saya – atau tidak saya antisipasi ketika saya bersiap membaca – menjadi muncul. Itu memperkaya saya dalam merenungkan dan menjalin komunikasi dengan sajak-sajak ini.
Tak hanya itu, tulisan keduanya – terutama Seno, yang juga seorang penyair yang kuat menurut saya – bikin saya agak lebih canggih dalam menghadapi kemunculan kumpulan puisi ini sebagai fenomen sosial. Sedangkan tulisan Iman Budhi Santosa di sana-sini membuat saya terperangah menyadari kecupetan, kepicikan saya sendiri dalam membaca dan berusaha berkomunikasi dengan sajak. Misalnya ketika ia membicarakan sajak Vivian Idris yang bertajuk Nimas.
Setelah pengantar dari Seno, dicantumkan pula di bagian depan buku ini email dari penyunting buku kumpulan sajak ini, Mariana Ariesetyawati.
Menyusul, sajak-sajaknya sendiri. Secara kurang lazim, sajak-sajak di kumpulan ini tak dikelompok-kelompokkan menurut siapa penulisnya. Ada empat bagian yang masing-masing diberi judul warna, yaitu Biru, Hitam, Merah, dan Kesumba. Warna-warna tersebut diupayakan muncul dan berbicara di halaman ilustrasi yang mengawali setiap bagian. Ini menarik. (Meskipun antara merah dan kesumba perbedaan begitu tipisnya sehingga – setidaknya untuk mata saya yang menua – sulit ‘terbaca’).
Bagaimana tentang sajak-sajaknya sendiri?
Di tempat pertama, sajak, khususnya kumpulan sajak, selalu cenderung mengharukan untuk saya. Mungkin ini karena saya sendiri kadang-kadang nulis sajak juga, yang bagi saya hampir selalu berarti keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri, dengan pikiran-pikiran dan perasaan yang selalu belum selesai. Dan ternyata pikiran-pikiran, perasaan-perasaan itu tidak juga bisa ditipu-tipu seolah tak ada, atau dilarut-larutkan dalam kesibukan sehari-hari, dalam rame-rame pergaulan dengan teman-teman dekat, dan bahkan dengan pergaulan intim dengan pasangan. Saya tetap diri saya sendiri yang berhadap-hadapan dengan diri sendiri.
Sebagian besar dari sajak-sajak dalam kumpulan ini saya kira terpantik dari momen demikian: momen ketika entah karena sebab apa – mungkin sangat remeh – pendaman-pendaman itu menyodok-nyodok, minta keluar, meminta wujud yang berupa bahasa, kata-kata yang lebih terpilih, tertimbang, daripada yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dan ‘bahan yang sudah terperam’ itu diungkapkan secara langsung, sehingga yang muncul memang bukan terutama cerita melainkan pernyataan-pernyataan sugestif tentang suasana pikir-dan-rasa pada momen tertentu.
Tapi pada sajak-sajak Oppie Andaresta saya lihat hal berbeda. Di antara berempat ini, Oppie adalah yang paling suka bercerita tentang orang lain, bukan dirinya sendiri. Tentang ibu yang salehah, tentang tenaga kerja wanita, tentang penjual lontong sayur, misalnya. Jadi, selain meneriakkan atau membisikkan diri sendiri, dia meneriakkan atau membisikkan orang-orang lain di sekitarnya secara lebih tegas ketimbang yang dilakukan ketiga temannya di kumpulan sajak ini.
Tapi dalam sajak-sajak demikian tentu dia ‘meledakkan’ dirinya juga. Tentu sudah bertumpuk-tumpuk bahan peledak itu dalam dirinya ketika melihat kepincangan sosial, kekejaman perlakuan terhadap pekerja perempuan, dan lain-lain. Kemudian, pada suatu momen terpantiklah itu, entah oleh apa. (Dia bisa menceritakannya sendiri nanti, kalau mau). Jadi yang kita hadapi dalam sajak-sajaknya tetap Oppie. Oppie yang bersaksi tentang kehidupan di luar dirinya. Sekaligus bersaksi bahwa personalnya ternyata tidak terpisahkan dengan ‘yang terjadi di luar diri’ itu. Artinya, dia bersaksi – meski secara tersirat bahwa dia – seperti masing-masing dari kita – harus berani berhadapan dengan diri sendiri dalam menghadapi dan menentukan sikap terhadap fenomena sosial – yang menyangkut keperempuanan maupun tidak – di sekitar. Dan jangan lupa, memilih tidak menggubris pun adalah sebuah sikap.
Bahwa keempat perempuan yang tinggal di Jakarta ini masih melakukan refleksi pribadi di sela kesibukan mereka di luar dan di dalam rumah, sungguh suatu hal yang membesarkan hati. Dan yang lebih membesarkan hati adalah bahwa mereka menerbitkan kumpulan puisi ini sebagai salah satu wujud dari refleksi itu. Bolehlah kita memberanikan diri menduga bahwa banyak perempuan lain melakukan hal serupa. Tetapi yang saya kira sangat penting juga ialah mempublikasikan ‘kesaksian-kesaksian’ mereka tentang hal itu, antara lain dengan penerbitan semacam ini. Jika itu makin banyak muncul, setidaknya ada dukungan untuk menghidupkan optimisme kita bersama.
Dengan membayangkan bahwa ibu-ibu suka berefleksi seperti mereka berempat ini, berani mendudah dan mempertanyakan hal-hal mendasar tentang kehidupan personal maupun sosial mereka, dan berani – bahkan bergairah – mengungkapkannya, generasi yang mereka turunkan semoga terbimbing pula menjadi kritis, kreatif dan – tak kalah penting – punya integritas!
Selamat!
landung simatupang
31 Maret 07
Dear all,
Rencananya, 28 April 2007, jam 20.00, Lulu Ratna, Olin Monteiro, dibantu Feby Indirani (novelis) dan Indah Survyana (penyair muda BUMA), akan menjadi salah satu peserta dan ikutan membaca beberapa puisi berkaitan dengan tema Rumah, diacara peluncuran RUMAH KATA dan ulangtahun milis BUNGA MATAHARI. Kegiatan akan dilakukan di West Pacific, Gedung Jaya, Thamrin.
Puisi dari buku BIRU HITAM MERAH KESUMBA juga akan di ilustrasikan dan dipamerkan oleh Injun dan teman-temannya sebagai bagian dari RUMAH KATA (kegiatan perdana) - dan BUNGA MATAHARI. Rencananya ilustrasi puisi ini akan dibukukan secara independen.
Gabunglah ke milis bungamatahari@yahoogroups.com atau lihat ke www.bungamatahari.org
Sampai bertemu di sana.
PBP
Yogyakarta si kota budaya dan kota pelajar. Apakah betul?
31 Maret 2007, kami kelompok perempuan bukan penyair, menyelenggarakan diskusi buku BIRU HITAM MERAH KESUMBA dan kumpul-kumpul dengan kawan di Yogyakarta. Acara di gelar di KINOKI Yogya (bukan bioskop bukan coffeeshop) dan di organize oleh ibu Sarie, Event Organizer kami dariKomunitas Gayam yang manis dan sangat baik hati. Bahkan saya dan Lulu dijemput di stasiun kereta oleh LO kami yang manis bernama Fe (aduh Fe kamu jangan ke Jakarta ya… banyak buaya!!!).
Acara di pandu oleh Rachel (putri dari Rendra) yang ternyata ceria lucu menggemaskan total dan di moderatori oleh Elida dari Kinoki si tomboy funky yang jago nyanyi. Pembukaan dibacakan beberapa puisi oleh Ibu Anggi, komunitas gay dan PSK dan seorang model jelita dari Yogya (aduh maap sudah lupa deh namanya). Sarie… bantuin dong.
Mas Landung membuka dengan sedikit pembahasan pendapat beliau soal buku. Saya cukup kaget karena mas Landung juga membahas para penulis kata pengantar di situ. Anyway, diskusi ternyata agak kurang cair dan respond dari penanya sangat sedikit. Sayang sekali. Untungnya Elida si manis berhasil menghidupkan keadaan dengan pertanyaan dan juga pancingan yang memikat diskusi lebih lanjutnya. Bahkan mas TS Pinang penyair apsas juga lagi kalem dan suaranya hilang (ada mba di sebelahnya jadi beliau agak kalem ehemm). Mana nih para budayawan dan pelajar yang biasanya heboh.
Diskusi buku kurang sip, tanpa pembacaan puisi. Lengkap dengan musik perkusi yang keren dari Komunitas Omah Panggung dan Jembe Merdeka, para pembaca beraksi, mulai dari Ibu Anggi darI Karta Pustaka, Komunitas Gay dan PSK, komunitas waria, mas Didi Nini Thowok yang di dakwa nyinden plus menari dg trance dan seru. Lalu ada Titarubi sahabat olin yang perupa tapi mendadak jadi penyair, Naomi Srikandi (adik Rachel), Elida Kinoki si penyanyi blues, mas LAndung (tentu saja), Marzuki si rapper Yogya dan seorang cowok lucu yang baca puisi dari balik tiker (malu ya mas).
Terimakasih buat mba Sarie, Fe, Thomas, Elida, Fani Kinoki, mas Landung, Mas Didik, komunitas yang telah membantu kami dan kegiatan ini di Yogya. Ayo YOGYA… semangat dong… jangan lemot hehehe.
Olin
MENITI WARNA-WARNI KISAH DAN IMAJI
DALAM PUISI-PUISI: VIVIAN, LULU, OLIN, DAN OPPIE.
Oleh Iman Budhi Santosa
Pada suatu siang yang panas di pertengahan bulan Juli, ketika sedang membolak-balik naskah cerita anak yang akan diterbitkan oleh sebuah penerbit lokal Yogyakarta, tiba-tiba HP saya berdering. Ada pesan singkat masuk, di mana pengirimnya belum saya kenal. Yang menarik, pesan itu disampaikan menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah “yang baik dan benar”. Kata-katanya ditulis lengkap, utuh, tanpa banyak disingkat seperti kebanyakan SMS sekarang. Penulisannya runtut, tertib, tidak serampangan. Artinya, memakai titik koma serta tanda baca sebagaimana lazimnya menulis surat. Meskipun singkat terdapat salam buka, pemaparan isi, juga penutup. Pemilihan dan penempatan kata-katanya tepat. Susunan kalimatnya rapi, sehingga maknanya mudah dimengerti. Penyampaiannya pun terasa santun, penuh tata-krama, menggunakan unggah-ungguh yang bersumber pada adat tradisi budaya etnis di Tanah Air kita. Dengan penulisan seperti itu terkesan pengirimnya telah memiliki visi dan kemampuan yang bagus mengenai seleksi informasi yang akan disampaikan dan bagaimana menyampaikannya lewat kalimat-kalimat singkat, padat, jernih, sehingga tak membuat layar HP menyerupai tembok kota yang penuh coretan, atau koran, radio, atau televisi yang sering tumpang tindih dalam mengemas iklan dan informasi. Dan terakhir, mereka – karena pengirim SMS mengatasnamakan empat sekawan dan semuanya perempuan – mencantumkan nama masing-masing. Lengkap dan jelas. Tanpa embel-embel gelar yang menjadi penyangga identitas, status dan sebagainya, dan sebagainya. Agaknya, mereka benar-benar ingin hadir dan diterima sesuai kodratnya sebagai perempuan saja; tak lebih dan tak kurang.
Garis besarnya, SMS tersebut berisi semacam permohonan sekaligus undangan. Konon, mereka akan punya hajat dan saya diundang untuk menghadiri, atau ngestreni hajat tadi. Mengenai wujud dari hajat tersebut, dengan rendah hati mereka mengatakan, yaitu menerbitkan sebuah antologi puisi karya empat sekawan ini. Dua minggu kemudian, lagi-lagi di siang yang panas ketika saya sedang menemani tetangga sebelah merenovasi rumahnya yang retak akibat gempa, seorang kurir surat datang menyerahkan amplop tebal warna coklat. Isinya draft manuskrip antologi puisi berjudul: Biru Hitam Merah Kesumba karya kuartet perempuan Ibukota itu: Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta, dan Vivian Idris.
Malam harinya, mulailah saya mencoba bersilaturahmi dengan bayi-bayi puisi yang lahir dari gua-garba kreativitas mereka. Setapak demi setapak beranjak menyusuri relung labirin kata yang dibangun, mendedah, memahami serta mengurai simpul makna yang dikandungnya. Semoga lewat rasa aroma yang sengaja atau tak sengaja dihadirkan dalam totalitasnya, dari pesan kesan yang dibisikkan, dari sekian banyak kisah peristiwa yang tergambar, dari lekuk-liku pengalaman batin mereka yang berkelebat-kelebat melintas, dari warna-warni nuansa serta permainan imaji yang mengusung luapan perasaan dan hati mereka, dapat dipungut “sebutir dua butir biji sawi” yang manakala ditebar, disemai, diserahkan kembali pada alam dan habitatnya, akan tumbuh sebagaimana kodratnya menjadi Brassica rugosa baru yang bakal menemukan manfaatnya bagi kehidupan ini kelak kemudian hari.
Kesan pertama menikmati antologi puisi Biru Hitam Merah Kesumba, rasanya seperti benar-benar berkunjung ke sebuah rumah mungil yang indah, tapi letaknya entah di mana. Yang jelas, masih di Indonesia. Mungkin di Jakarta, mungkin pula di kota lain. Rumah itu dihuni pemiliknya, yaitu empat orang perempuan sebaya yang belum pernah saya kenal. Meskipun keempatnya bukan saudara kandung, tetapi mereka memiliki ikatan batin yang erat dan rumah itupun telah menjadi home bagi mereka. Di ruang tamu yang nyaman, teduh, keempatnya menerima saya. Seperti halnya orang baru, sambil berbincang-bincang saya mengamati bangunan rumah, arsitekturnya, hiasan serta perabotan yang ada di sana. Berlanjut pada dandanan yang dikenakan mereka, aksesori, tutur kata, juga perilakunya. Dari apa yang saya temui, baik yang tersirat maupun tersurat, suasana rumah dan penghuninya tak menunjukkan tanda-tanda khas. Misalnya, yang dapat menjadi petanda dari mana mereka berasal, apa pekerjaan mereka, pendidikan mereka, cita-cita mereka, dan selanjutnya. Yang tampak hanyalah keterbukaan, keramahan, kearifan, serta semangat persahabatan yang tulus antar manusia. Beberapa waktu kemudian mereka pun menyajikan hidangan yang berbeda-beda, yang katanya dibuat sendiri-sendiri oleh mereka. Nah, sehabis mencicipi hidangan mereka itulah saya baru menemukan awal kata yang (mungkin) memadai untuk menyemarakkan silaturahmi pertama saya dengan mereka.
* * *
Buah tangan pertama yang saya cicipi adalah karya Vivian Idris yang judulnya memiliki nuansa Jawa yang sangat kental: Nimas. Sajak ini sederhana, namun mengandung makna yang dalam mengenai hubungan batin laki perempuan. Kekuatannya terletak pada pemilihan dan penggunaan simbol-simbol sugestifnya serta model pencitraan batin (nonvisual) yang ditempuh guna mendukung terciptanya asosiasi dan suasana magis dalam sajak. Di sini agaknya Vivian ingin menggambarkan kesakralan cinta dan kasih sayang yang melandasi persenggamaan suami isteri sehingga membuahkan janin bayi. Sebagaimana lazimnya budaya perempuan Timur, Vivian lebih melihat peristiwa itu sebagai penyatuan roh laki-laki perempuan, dan bukan sekadar memenuhi tuntutan nafsu badaniah belaka. Dan manakala keduanya mampu memasuki (mencapai) tataran nonragawi itu, masing-masing akan melihat (dan mengetahui) hakikat dari penyatuan tersebut.
Proses itu dimulai ketika sang laki-laki (sebagaimana tradisi Jawa di mana laki-laki lebih banyak memimpin) membisikkan ajakan (ajarannya): “Berikan kepada malam matamu, Nimas!/Akan diciptakannya bintang-bintang untukmu”//. Memberikan mata pada malam, dapat diartikan sebagai menggunakan mata batin; bukan lagi mata kasar. Dengan demikian, meskipun terpejam atau berada dalam kegelapan, segalanya akan tampak, termasuk arti makna yang tersembunyi di dalamnya. Mengapa hal itu diperlukan dalam persenggamaan suami isteri, karena menurut ajaran kebatinan Jawa hubungan tersebut harus dilakukan dengan intens, santun, dan penuh tatakrama. Sedikit banyak dilarang (ditabukan) melakukan hal-hal yang vulgar atau berlebihan. Sebab, ada kepercayaan yang menyatakan bahwa seluruh nilai perilaku hubungan tersebut langsung tak langsung dapat mengimbas kepada sifat dasar janin bayi yang bakal hadir menjadi buah cinta keduanya.
Meskipun demikian, saya tidak tahu pasti apakah Vivian sengaja mengangkat fenomena ajaran kejawen di balik hubungan suami isteri itu, atau justru karena terpukau oleh ritualisasi peristiwanya yang demikian mendebarkan. Tatkala sepasang manusia “menari mengikuti liukan angin yang menyibakkan rambut/kita, jubah kita, dan membuyarkan susunan kertas-kertas…/Lalu kita berkejaran dengan malam dan nyanyian burung hantu yang mengundang bulan//. Yang menarik, ternyata Vivian juga terkesan melestarikan pandangan tradisional, bahwa keinginan memperoleh anak datangnya lebih besar dari fihak laki-laki. Atau, nyaris menjadi hak laki-laki. Sedangkan perempuan selalu difahami sebagai “empu” yang mengandung dan melahirkan bayi semata. Samar-samar pemahaman itu tersirat pada dua larik terakhir sajak ini: “Aku simpan gambar-gambar itu, Nimas!/Untuk jadi bingkisan pada minggu keempat puluh”//. Demikianlah seperti yang banyak terjadi, laki-laki akan sangat berterima kasih (yang disimbolkan sebagai: memberi bingkisan) pada isterinya karena telah memberikan anak, di mana nilai dirinya sebagai bapak akan terwujud, dan nilai isterinya sebagai ibu juga terpenuhi.
Sajak Vivian yang lain, yang masih menggarap seputar anak adalah: Anak Sayang. Lagi-lagi dengan ungkapan yang lembut imajinatif, ia menggambarkan bagaimana seorang ibu menina-bobokan anak kesayangannya. Sajak ini akan terasa lebih menarik jika dikaitkan dengan sajak Nimas di atas. Persoalannya, Vivian seakan meneguhkan bahwa anak yang dikandung perempuan sesungguhnya adalah “tamu”. Satu dari sembilan bulan (purnama) yang hidup menjadi tamu dalam rahimnya. “Dengar ceritaku tentang sembilan purnama/dan satu hidup jadi tamu dalam rahimku”//. Meskipun anak baginya adalah tamu, namun akhirnya dialah yang paling bertanggung jawab mengasuhnya; bukan laki-laki yang “mengirimkan rembulan yang menjadi tamu dalam rahimnya” tersebut. Dengan penuh tanggung jawab si ibu akan mengatakan: “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan”//. Lewat kedua sajak di atas, Vivian telah mencoba membuat gambaran yang kreatif serta berani membuat pernyataan mengenai keberadaan anak dalam kehidupan suami isteri. Memang, pola pikirnya tidak terlampau baru, namun dari sana samar-samar kita seperti diingatkan bahwa ada sekian banyak nilai kearifan lokal yang sadar tak sadar masih berakar dalam diri kita dan diam-diam juga menjadi acuan hidup kita bersama. Seperti pernah dinyatakan Darmanto Jatman dalam puisinya yang berjudul Anak, bahwa: “anak bagai buah sukun yang menentukan tinggi rendahnya mutu kita sebagai pohon/anak adalah buah mangga yang menentukan layak tidaknya kita menjadi pohonnya”//.
Berbeda dengan puisi Vivian yang cenderung “diam” dan mengandalkan imaji-imaji sugestif yang individual, puisi Lulu Ratna terkesan lebih meledak keluar (atraktif). Tanpa harus mengetahui latar belakang pribadi dan pekerjaannya, dapat dibayangkan jika puisi-puisi dia lahir dari sekian banyak perjalanan, pertemuan dengan banyak orang, serta persentuhan maupun tarik-menarik nilai demi nilai yang ditemui di luaran. Meskipun demikian, ternyata Lulu tidak ingin menceritakan realitas di luaran tersebut secara an sich, melainkan semua yang dipungutnya lebih digunakan untuk landasan atau batu loncatan merenungkan, sekaligus cermin dalam menerjemahkan apa yang sedang berkelebat-kelebat dalam batinnya.
Dan di sanalah agaknya dia menemukan berbagai dimensi “Lulu” yang dicarinya selama ini. Salah satunya seperti dalam sajak yang berjudul: Tersesat. “Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang”//. Benar, hampir semua perjalanan akan berbahaya, menyesatkan, jika diri kita larut ke dalam riak-gelombang yang berdatangan menerpa. Luar biasa, dengan impresif dia berhasil menyodorkan sebuah snapshot kecil tentang seseorang (tentunya perempuan) yang lolos dari suatu permasalahan hidup yang gawat. Dan dahsyatnya ia menyelipkan salah satu matra yang (mungkin) dicuplik dari faham eksitensialisme. Yaitu, yang dimaksud pulang ternyata bukan ke rumah, atau ke orang tua, ke suami, melainkan “kembali ke diri sendiri”. Di sini tampak sekali bahwa rumah bagi aku adalah diriku. Bangunan rumah seperti yang kita kenal dan kita tempati selama ini hanyalah semacam “rumah kos” belaka.
Beberapa sajak Lulu yang lain banyak yang memiliki tema serta nuansa seperti sajak di atas. Dalam My Salvation misalnya. Dengan eksplisit di larik akhir sajak itu dia membuat pengakuan, “bahwa aku masih bisa diselamatkan/dari diriku sendiri”//. Jika pada sajak tersesat, diriku pada hakikatnya juga rumahku, pada sajak ini Lulu menunjukkan bahwa: diriku bisa juga menjadi musuhku. Lebih nyata lagi bagaimana dia mencoba mengartikan “aku” pada Puisi Ulang Tahun. Jelas dan tandas ia menulis: “ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging/seorang aku…”//. Di sini ia melihat, aku disamakan, dimaknai sebagai puisi. Persis dalam sajak Akulah Puisi di mana dengan agak verbal Lulu menyatakan bahwa puisi, hidup, dan aku nyaris adalah satu. Oleh karena itu “Puisi adalah kehidupanku/puisi itu hidup!”//. Dalam setiap perjalanan atau pengembaraan (baik fisik atau rohani) sering menyebabkan kebingungan, karena seolah di sana tak ditemukan apa yang dicari, atau tak ada apapun yang dapat dimaknai. Dalam situasi seperti itu, dengan tegar Lulu menuliskan rasa kesia-siaannya, sekaligus cara mengatasi kesia-siaan itu, dalam sajak Di Hari Aku Mengetahuinya. “Ya aku terpuruk, tapi belum kalah/begitu banyak drama dalam hidupku, tercipta olehku sendiri kebanyakan….//. Ya, hidup memang dapat kita permainkan. Karena itulah kita harus pandai-pandai menemukan permainan baru dalam memaknai kehidupan agar tak terjadi rasa sia-sia dan frustasi berkepanjangan. Mungkin caranya sederhana, seperti dibisikkan Lulu: “ah, hari senin besok masih akan ada hasil tes hepatitis!” Artinya, ada jutaan titik di celah kita melangkah yang terlewati begitu saja. Jika pada suatu saat memerlukan, ada baiknya jutaan nilai yang bertebaran itu kita cermati, dan dimunculkan ke permukaan untuk memberikan arti pada segala macam hiruk-pikuk yang kita hadapi.
Tak jauh berbeda dengan Lulu Ratna, sajak Olin (Carolina Monteiro) juga banyak mengekplorasi momen-momen yang ditemui dalam dinamika kehidupan nyata di masyarakat. Yang sedikit membedakan, jika Lulu berkutat dengan masalah kedirian, Olin justru berusaha menerjemahkan fenomena di luaran itu sebagaimana adanya. Lewat penyerapan mata batinnya ia merekam, memvisualkan banyak realitas dan peristiwa, seperti: “bapak tua shalat maghrib di bantaran sungai/ rombongan kelelawar bermigrasi ke utara/ sampai perbatasan riau jambi/ (Muara Gambok), atau “di dedaunan kelapa coklat/debu berkejaran/serambi kayu tua termangu// (Meniti Angin), atau: “bicara pada bukit-bukit Timor/berdiri songsong masa baru/gejolak rasa merdeka/desa-desa berjuang lelah…”/ (Kepada Bukit di Timor). Dan selanjutnya, lewat kesan kenangan yang ia peroleh, Olin menyisipkan gumam-gumam kecilnya yang dalam keadaan biasa tak mungkin menemukan saluran tepat untuk mengungkapkannya. Puisi Olin nyaris memainkan konfigurasi dan artikulasi seperti itu. Bahwa lewat kata, imaji, perlambangan, asosiasi, dan suasana puisinya ia menyebarkan makna dan kesimpulan-kesimpulan kecil di sana-sini. Olin ibarat seseorang yang tengah membuat taman dan menanaminya dengan bunga warna-warni, namun selanjutnya dia malah memilih menjadi capung yang berseliweran terbang menikmati kenyamanan taman itu.
Puisi-puisi Olin meskipun kata-katanya terkesan lugas dan verbal, cukup menarik juga ketika dengan enteng mengungkapkan: “Disingkapnya kain tenun kakinya memar kebiruan darah mengering/kepedihan itu jadi milikku sekarang” (Kepedihanmu Milikku Juga). Simak juga cara dia meluapkan kejengkelan yang unik pada larik ini: ”Mau jengkel/Pada siapa harus jengkel/…Dia menumpang bagai parasit menyedot darahku” (Marah dan Hormon). Cara Olin memainkan imaji dan memindahkan perhatian pembaca dari pengertian satu ke pengertian lainnya terasa plastis, segar. Tak terkesan dibuat-buat atau dilebihkan, kendati kadang bernada getir dan pahit. Begitu besarnya kecenderungan Olin untuk memainkan beragam temuan (atau pendapat) sempat mendorongnya sampai pada eksperimentasi membangun semacam teks-teks jargon yang puitis. Buktinya Olin sempat menulis dengan gaya “puisi mbeling” yang dulu pernah diletikkan oleh Remy Silado dan kawan-kawan. Contohnya: “Aih cinta memang hebat/sudah nyusahin/masih dibicarakan/masih pula dicari”// (Mencari Cinta).
Meskipun masih perlu diasah, dari larik-larik sajak Olin – paling tidak bagi saya – mengisyaratkan adanya ketangkasan dalam memahami dengan cepat bermacam aspek dan situasi di sekitar. Coba nikmati sejenak imaji yang dibangun ini: “Dan hari minggu menjadi senyap/Ketika hidup penuh dengan awan-awan malas” kemudian bergayut dengan larik akhir sajak: “Lewati sudut kosmos yang nelangsa/Ketika cinta tertulis dengan anehnya”/(Masa yang Berubah). Dengan caranya yang unik, Olin telah mengajak kita melakukan semacam pengembaran metafisik. Keluar masuk pengalaman demi pengalaman dalam khasanah jagat cinta yang rumit, kadang konyol, namun juga indah dan menggetarkan. Dengan enteng pula ia menempelkan sekian banyak fakta – sebagaimana informasi di koran – untuk mengganggu ketenangan mereka yang melintas. Hingga mau tak mau mereka pun berpaling dan berhenti sejenak, kemudian mencoba tahu: lukisan apa yang ingin disampaikan lewat rangkaian kata-kata Olin itu?
Sajian terakhir yang saya nikmati adalah puisi karya Opie Andaresta. Sebagaimana puisi Vivian, Lulu, dan Olin, puisi Oppie memiliki potensi yang lain lagi. Dibanding karya ketiga sahabatnya, sajak-sajak Oppie terkesan yang paling kaya isi, imaji, serta paling rame mengutarakan kisah-kisah kehidupan yang ingin dipanggungkan. Seperti: “Kekasih gelapku…kekasih dalam hatiku…/Terlalu malu aku untuk kecewa karenamu”/(Kekasih), atau: “Terlalu nyaman aku berdiam damai di ketersembunyianku yang indah/Merasakan sensasi dan gairah rasa keperempuananku/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku”/ (Berubah), kemudian lagi: “Lihatlah, para lelaki, bergegas ambil posisi selepas azan/betapa indah mereka, saat khusyu dan memasrahkan diri padaNya/perempuan di sampingku ucapkan salam dan menjabat tanganku/aku ada dan nyata….”// (SMS Dikie).
Dalam puisi Oppie, realitas kehidupan tampak demikian nyata, verbal, mengalir sebagaimana dimaui penulisnya. Seolah dia tak berpretensi untuk mengatur, menata dengan teknik dan pola yang lazim, melainkan ingin semua itu dijadikan kerangka buat dirinya bermain, memamerkan pesan dan keindahan yang hendak dikomunikasikan. Bagi saya, puisi Oppie terkesan seperti sebuah sarang laba-laba. Sementara si laba-laba tidak tinggal (berada) di dalam sarang tersebut, tetapi tinggal di luarnya agar dirinya bebas mengekspresikan kepuisiannya. Seperti peribahasa Cina yang mengatakan: “Ulat sutera menenun kepompong dan tinggal di dalamnya, karena itu dia terkurung; sedangkan laba-laba menenun sarang dan tinggal di luarnya, karena itu dia bebas”.
Ekspresivitas puisi Oppie terasa menonjol dan kuat lantaran dia sengaja mengusung cuplikan-cuplikan peristiwa hidup keseharian yang juga akrab dan dirasakan banyak orang. Contohnya, bagaimana pun setiap orang (laki perempuan) akan mengalami kegelisahan menjelang pernikahannya. Kasus ini dipaparkan Opie dengan nada dan suasana hati keperempuanannya yang khas. “Di sini aku belajar hidup lagi dengan peran baruku yang perempuan/Bunda, apakah aku harus gelisah atau bahagia/Pegang tanganku biar aku tetap berpijak, seperti ketika kauajari aku melangkah dulu…”/Perawan menjelang 27 tahun itu, sekarang 27 tahun, dan tidak perawan lagi” (Perawan). Perhatikan juga gambaran situasi yang nyaris nyata dalam: “musikku tak lagi sumbang, tarianku ringan…/aku lepas tak terbatas, tak usah waras,/tak perlu kesadaran tak butuh aturan…aku ingin hidup…/lalu aku menyanyi keras-keras, berputar cepat/tertawa panjang, merokok seribu batang, bangun siang dan tak lupa doa…”/(Cerita Teman).
Demikianlah selintas silaturahmi saya dengan puisi-pusi Vivian, Lulu, Olin, dan Oppie. Bukannya mengada-ada jika setelah menikmati karya-karya mereka saya berani mengatakan bahwa dalam diri mereka tampak adanya bakat kepuisian yang terpendam. Di sana-sini terasa mereka telah menemukan “simpul-simpul pesan” dan memaparkannya dengan ungkapan puitik yang indah dan bermakna. Hanya saja, orisinalitas pembahasaan mereka masih perlu diasah dan ditingkatkan. Ibarat dawai gitar atau biola, tegangannya perlu disesuaikan dengan denting garpu tala agar diperoleh nada dasar yang tepat seperti diinginkan. Jadi, sebenarnya mereka tak perlu merendah dengan memberi label kumpulan ini: “Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair”. Karena, menulis puisi bukannya monopoli penyair. Puisi boleh ditulis oleh siapa saja, dipersembahkan pada siapa saja, dan juga digunakan untuk apa saja.
Secara pribadi saya “angkat topi” pada empat sekawan ini yang mulai merambahkan kreativitasnya ke dunia puisi. Satu-satunya genre sastra (dan kesenian) yang tak menjanjikan apapun bagi kreatornya, kecuali sunyi dan kearifan yang hakiki. Mungkin, semangat menulis puisi sama halnya elan vital para guru, yang rela memberikan apapun yang dimiliki pada murid-muridnya. Agar murid-murid itu nanti dapat menyadari bahwa kehidupan sungguh terlalu besar untuk dijadikan objek penelitian keilmuan melulu, dan juga terlampau agung untuk tidak diakui dan dirayakan dengan kata-kata yang membuat setiap manusia menemukan dan merasakan bermacam nilai, keindahan, dan kebebasannya.
Konon, kata T.S. Eliot, puisi sejati itu sudah berkomunikasi sebelum dimengerti. Sedangkan menurut Joseph Roux, puisi adalah kebenaran yang sedang berhari minggu. Dan untuk antologi Biru Hitam Kesumba Merah (Merah Hitam Biru Kesumba) ini, mungkin Vivian, Lulu, Olin dan Oppie perlu merenungkan ucapan tokoh nasional kita Haji Agus Salim (alm): “Jangan dipuji suatu hari sebelum datang maghribnya.”
Demikian, semoga bermanfaat. Salam kreatif.
Yogyakarta, 3 Agustus 2006
From: Anna Mailed-By: yahoo.com
To: Vivian, Lulu, Oppie, Olin “perempuanbukanpenyair@yahoo.com”
Date: Jul 17, 2006 6:42 PM
Subject: biruhitamkesumbamerah
Reply | Reply to all | Forward | Print | Add sender to Contacts list | Delete this message | Report phishing | Show original | Message text garbled?
dear gals,
Apa yang membuat orang lebih mudah menuangkan isi hati lewat puisi ketimbang prosa? Menurut pengalaman saya, puisi lebih disukai karena sifatnya yang pribadi/ personal. Ia tak perlu memberi makna sama pada pembacanya. Bagi pengarang/ auteur, puisi menjadi sesuatu yang rahasia karena dimengerti hanya untuk dirinya sendiri. Terserah pemahaman orang lain mau seperti apa.
Karena kepersonalannya itu, puisi dibolehi menabrak kaidah-kaidah. Toh, tak seorang pun berhak menentukan perasaan. Tak seorang pun berhak mengatur bagaimana reaksi seseorang terhadap sesuatu.
Puisi yang baik biasanya lahir dari kejujuran si pengarang; merupakan ungkapan hati si penulis. Puisi menjadi indah saat dibaca orang lain lalu si orang lain ini merasa terwakili oleh puisi itu. Orang lain merasa bahwa puisi itu ditujukan untuk dirinya. Maka itu, ada yang bilang keindahan puisi terletak pada sifat simbolisnya.
Oke gals, sekian dulu ya. Aku dah telat pulang nih… bubyeee….
Anna (Mariana Setiawati)
________________________________________
Kronologis Perjumpaan Perempuan Bukan Penyair di Jakarta
1990 Oppie dan Olin bertemu pertama kali saat kuliah di jurusan Komunikasi IISIP, Lenteng Agung.
1991 Mobil Oppie tak sengaja menabrak mobil alm. Pak Idris (Ayah dari Vivian) di Jalan Perdatam, Jakarta Selatan. Inilah kali pertama Vivian mengenal Oppie via KTP.
1992 Lulu berkenalan dengan Oppie saat intens bergaul di Gang Potlot.
1998 Perkenalan Olin dengan Vivian terjadi pada gerakan reformasi ’98 di Kantor GSJ, Jl. Borobudur, Jakarta Pusat. Pada tahun yang sama Olin dan Lulu bertemu di PPHUI pada sebuah pemutaran film, namun keduanya mengaku lupa event apa yang mempertemukan mereka. Di tahun ini ide penerbitan antologi puisi untuk pertama kalinya dibicarakan oleh Lulu dan Olin.
2001 Vivian berkenalan dengan Lulu pada sebuah pertemuan tentang film di Kafe Palem, Kemang. Kafe ini sekarang sudah tidak ada lagi, jadi tidak perlu dicari.
2005 Vivian bertemu muka langsung dengan Oppie. Pada pertemuan ketiga ia membongkar rahasia KTP dan kecelakaan mobil 14 tahun lalu. Di tahun ini juga, Lulu, Olin, Oppie, dan Vivian sepakat untuk bersama menerbitkan puisi-puisi curhat mereka ke dalam sebuah antologi.