Fri 16 Mar 2007
“Tersihir” Biru Hitam Merah Kesumba
Filed under: Articles — admin @ 2:41 pm

Oleh: Gadis Arivia
(tulisan untuk LAUNCHING BIRU HITAM MERAH KESUMBA, 6 Desember 2006)

Memang benar bahwa keempat perempuan yang menulis antologi puisi “Biru Hitam Merah Kesumba” bukan penyair mungkin lebih tepat dikatakan “penyihir”. Mereka Perempuan penyihir yang pandai menyihir dengan kata-kata. Apa yang hendak mereka sihir? Mereka mengerubuti dunia untuk disihir menjadi biru, hitam, merah dan kesumba.

Mengapa biru?

Sebab biru berbicara soal eksistensi perempuan. Eksistensi perempuan yang “Jangan kasihani aku/Aku baik-baik saja/Bernapas, bermimpi, beradaptasi/Kita jalani minggu, bulan, tahun dengan/Kita maknai dengan cara kita/bukan karena aku perempuan, tapi karena aku/ manusia” (Karena Aku Manusia, Oppie, 1998, hal.8). Perempuan bereksistensi lewat kata-kata karena dunianya harus diciptakan ulang dengan kata-kata baru maka “sambil berbaring menatap langit…apa kabar/ Ken Dedes/ lapisan imajinasiku menerawang sosoknya/ di pojokan komputer mengetik naskahnya/ jiwaku turut gelisah/Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua/Tempat banyak perempuan desa/Dianiaya, dicerca, tak bersuara/Tersiksa batinnya atas nama status istri aku juga/seorang istri…aku juga/seorang istri/Des, jangan tutup file itu/Mari menulis bersama, Des” (Teruskan Menulismu, Olin, 2006, hal.20).

Apakah yang hendak ditulis oleh perempuan? Dan mengapa perempuan memilih untuk menulis? Karena kata filsuf Perancis Jacques Derrida , perempuan ingin mendekonstruksi realitasnya, menampilkan suara “yang lain” mengenai kehidupan yang dijalani. Bukankah kehidupan selalu memakai frame work laki-laki? Sama pula dengan dunia penyair memakai frame work sastrawan yang sekolahan dengan olahan rasio, kini saatnya memakai frame work istri, frame work manusia perempuan dengan olahan emosi dan mengapa tidak? Dari olahan ini pula makna aku tersingkap; “’ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging,/seorang aku..(Puisi Ulang Tahun, Lulu, 1996, hal.34).

Seperti yang telah dipaparkan oleh keempat “penyihir” di buku bagian tulisan “Dari Kami”, mereka menyebutkan bahwa pekerjaan mereka sebagian besar telah dikapling menjadi ibu rumah tangga. Oleh sebab itu, wajar pengalaman kerumah tanggaan dan dunia kekeluargaan menjadi bagian dari pengalaman yang ingin didekonstruksi. Pengalaman wilayah domestik ini dibuat kaya oleh keempat “penyihir” dengan menampilkan makna baru pernikahan dan anak. Simak puisi berikut ini: “Maka datanglah kamu membawa seikat cinta/ dan tak lupa pepes ikan serta cincin/ yang terbuat dari semesta…/konde kecil dari rambut keriting, kebaya putih/ dari pasar beringharjo,, bibir yang bergincu…/serta wajah bahagia ayah dan ibu/ di hari kau meminang../ini bukan cerita kartun, ini kisah betulan (Lulu Nikah, Oppie, 2006, hal.30). Ekspresi tentang anak juga menjadi passion yang kuat; “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan (Anak Sayang, Vivian, 2004, hal.28).

Passion perempuan tentang anak, keluarga, suami dan kekasih tidak menghilangkan eksistensinya sebagai perempuan-manusia, tidak pula membuatnya tersesat dan menenggelamkan dirinya. “Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang (Tersesat, Lulu, 1999, hal.11).

Mengapa hitam?

Namun ternyata makna “pulang” dapat membingungkan perempuan. “Mau ke mana kita, entah mau ke mana…/Ini bukan rumahku, di mana rumahku?/Kamu tak harus pulang, kamu tak pernah pulang/Aku tak harus pulang, aku harus pulang/Aku Cuma perlu sendiri, aku perlu masuk/dan berteman dengan jiwaku lagi/Aku perlu kontemplasi, aku pulang ke rumah jiwaku..(Di sini kita, Di mana?, Oppie, 2003, hal.66). Hitam berbicara tentang kegelisahan saat menjadi Absurd (Lulu, 1992, hal.58), saat merasakan perih hidup, Kepedihanmu Milikku Juga (Olin, 2003, hal.52), saat ingin marah namun kepada siapa? Marah dan Hormon (Olin, 2005, hal.61), saat berdamai dengan Perempuan dan Gincu; Dua puluh satu lebih perempuan muda/menyumbat mulut lorong/Dua puluh satu kurang lebih umurnya/kota menawarkan terlalu sedikit dan merampas/terlalu banyak (Vivian, 2006, hal.63).

Hitam pula yang mengungkap penderitaan-penderitaan perempuan seperti si Midah; midah temanku terdampar di negeri orang/midah temanku cari makan sebagai pembantu/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku badan kecil, bernyali besar/midah temanku pahlawan devisa negeriku/midah temanku…/masih saja ada anjing-anjing, yang menjilatimu/yang mengonggong parau, yang tak punya malu,/mengerjaimu, menipumu, merampokmu,/memperkosamu, mengarang aturan sialan,/sasampainya di tanah air (Terminal 3, Oppie, 2004, hal.46).

Mengapa merah-kesumba?

Pada awalnya adalah gairah. Gairah perempuan untuk “menyentuh” sekelilingnya bukan dengan logika akan tetapi dengan rasa. Merah-kesumba bercerita tentang cinta. Cinta bagaimanakah yang didambakan perempuan-perempuan 30-an yang hidup di setting urban? Cinta memiliki sejarah yang dulu pernah pula dialami oleh ibu-ibu kita. Mungkin dulu ibu-ibu kita tidak sebegitu beruntung dengan pemberontakan cinta mereka sehingga menjadi otoriter terhadap anak-anak perempuannya; ibumu lari karena tidak mau dikawinkan dengan laki-laki itu/ia lompat ke atas kapal, dan berlayar bersama/sepupunya ke Ambon./Aku lari dari rumahmu, ibu/bukan karena kau mau kawinkan/juga tidak untuk menceraikan diri/dari kita punya keluarga/Tidak usah menangis, Ibu/Mungkin Ibu berharap-harap saya tidak pergi/Tapi tak bisa lagi, Ibu/aku meneruskan ceritamu.(Aku Lari, Vivian, 1998, hal.71). Cinta adalah candu, candu untuk orgasme, bercinta siang malam, sampai habis tenaga, tempat tidur berbau cinta (Vivian, 1997, hal.78). Mampukah perempuan urban merumuskan cinta? Tampaknya sulit; Jatuh cinta memang indah/memelihara cinta itu gerah/putus cinta mau bunuh diri/jadi cinta itu aneh sekali (Mencari Cinta, Olin, 1998, hal.101).

Yang pasti, perempuan-perempuan urban berani menggunakan kebebasan berekspresi, dan bukankah kebebasan inilah yang terus menghidupi cinta? Bagaimana dengan seksualitas? Tabu seksualitas diterjang dan dijadikan puisi indah; Terlalu nyaman aku berdiam damai di/ketersembunyianku yang indah…/Merasakan sensasi dan gairah rasa/keperempuananku…/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku…(Berubah, Oppie, 1998, hal.86). Namun justeru pemikiran liar ini lah yang membuat mendesak pikiran untuk kritis pada keadaan sekitarnya seperti;

Selama empat puluh delapan purnama aku terjaga
Dari telanjang hingga kubungkus rapat badan ini,
Bersembunyi di dalamnya menjadi orang lain.
Kau paku aku sebagai permaisurimu
Di ranjang yang sesak…
lalu kau pinta restu untuk berbagi, karna tak cukup
nafsu kauumbar pada satu bini
atas nama lelaki-halal kau miliki dua tiga
dan empat…
Musikku terasa sumbang, tarianku gagap dan kaku
Aku menghirup udara dari asap dupa
Yang memabukkan,
menembus jantung dan paru-paru..
hatiku bernanah, rahimku berkerak tak bertelur,
tak ada bayi yang sudi singgah
Lalu semua kurangku menjadi pembenaran
langkahmu…
(Cerita Teman, Oppie, 2006, hal.97).

Mengapa menulis?

Menulis memberikan jeda antara apa yang dirasakan dan dituangkan. Jeda ini memberikan keleluasaan untuk menumpahkan pengalaman-pengalaman kaya yang “berbeda”. Budaya menulis membutuhkan ekstra enersi untuk merangkaikan realitas dengan perspektifnya sendiri, ini berarti berani untuk mengungkapkan karena bagaimanapun juga jejak-jejak telah ditinggalkan untuk ditelusuri kejujurannya. Budaya menulis sangat berbeda dengan budaya lisan (yang lebih banyak dianut para politisi atau penghotbah), karena kata-kata yang diumbar tidak meninggalkan jejak dan tidak dapat ditelusuri kejujurannya kecuali kalau tertangkap basah.

Selubung budaya lisan sangat melekat, tertutup rapat oleh aturan “moralitas” sedangkan modus puisi dari awal dituntut untuk terbuka dan cenderung untuk memilih pertanggungjawaban diri, tidak ada sandaran justifikasi pada siapa-siapa (apalagi partai politik atau agama tertentu) semua bersandar pada kekuatan diri sendiri. Karena tidak ada justifikasi ini lah, para penyair menurut saya terbuka untuk siapa saja, siapa saja yang tidak ingin terbelenggu dan berupaya “menyihir” dunia menjadi lebih baik.

Aku menulis
Menyita rasa dan perhatian
agar bebas lepas
dalam sebuah dunia jiwa
sebab
aku adalah sebuah puisi
selalu bernyanyi melaluinya
meredam
meredam
semua emosi yang harus meloncat keluar
menjadi titik-titik kata
dalam lukisan kalimat
panjang…
tak pernah mati

(Akulah Puisi, Lulu, 1993, hal.22).

GADIS ARIVIA adalah Pengajar filsafat dan kajian feminisme di Fakultas Ilmu Budaya, UI dan pendiri “Jurnal Perempuan”.

Comments (0)
Fri 16 Mar 2007
Menulis Puisi Gelisah Politik (sunyi)
Filed under: Articles — admin @ 2:37 pm

Menulis Puisi: Gelisah Politik (Sunyi)

R. Valentina
(untuk Launching BIRU HITAM MERAH KESUMBA 17 February 2007 di Bandung)

Awas
Hari ini aku panah yang lepas
menerabas jalan-jalan kota
menerbangkan debu-debu jalan
mengacaukan tenang daun-daun
menyambar api yang kusematkan di rambut-rambut kota
dan menari diiringi lagu kebebasan
tuhan, bapak, ibu

-aku ingin membangkang

vivian, oktober 1998

Maka Jika “Hari ini … –aku ingin membangkang”, Membangkanglah Saja… .
Dan jika esok aku masih ingin membangkang, maka membangkanglah saja… .

Tak bisa dipungkiri, membaca sebagai perempuan adalah kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Tentu saja, setiap orang berhak “membaca” sesuai dengan seleranya sendiri. Saya, dengan pengalaman pribadi dan personalitas saya, boleh jadi disentuh oleh bacaan yang satu dan tidak oleh karya yang lainnya.
Atau jikalah satu karya yang dituliskan, menyentuh pengalaman personalitas saya dan seorang kawan misalnya, kedalaman, kesan, gugatan, usikannya, belum tentulah sama.. Saya bisa saja menyukai, menikmati karya yang satu, dan kawan yang lain menyukai yang lainnya.
Demikianlah saya menikmati puisi-puisi ini. Kala membacanya, saya teringat atau tepatnya diingatkan tentang sebuah peristiwa yang menyangkut pengalaman saya. Pada bacaan yang satu, dahi saya berkerut, pada bacaan yang lain saya dibuatnya tersipu, sedih, tersenyum, atau bahkan berseru “waduh…”

Ada banyak hal yang merona dari tiap kata, susunan kata, bunyi saat saya membacanya, dan tentu saja: pengalaman, hidup, pikiran, dan tubuh saya.

Bagi kaum feminis, politik memang sebuah domain yang tidak dikotomis dengan domain “tidak politk”. Salah satu prinsip feminisme adalah “personal is political”. Dalam phrase ini terkandung makna yang sangat luas, diantaranya misalnya bagaimana pengalaman-pengalaman dan suara perempuan hadir dalam masyarakat sebagai sebuah upaya politik mengubah relasi yang tidak adil yang menimpa kaum perempuan. Disinilah kita diyakinkan bahwa pengalaman setiap perempuan memiliki kekhasannya sendiri, personalitasnya sendiri. Pengalaman menstruasi, memliki payudara, vagina, setiap perempuan, adalah pengalamannya yang sangat personal.

Siapakah yang paling bisa memahaminya, selain dia sendiri?

Bicara, menulis, berekspresi, dengan demikian adalah sebuah kerja politik dalam kerangka mengubah struktur yang menindas menjadi relasi yang adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki. Perempuan sudah seharusnya merayakan kemerdekaannya sebagai perempuan… membuka pedih……..luka…tawa…tangis…kesesakan demi kesesakan..kegelisahan…, bahkan “naik turun” pengalamannya….

Michel Foucalt, filsuf mazhab poststrukturalis, mengatakan bahwa bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia. Maka bicara bahasa tidak dapat dilepaskan dari hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi masyarakat. Disadari atau tidak, dalam masyarakat patriarki, pihak perempuanlah yang mengalami kelangkaan kekuasaan (lack of power). Maka untuk memperbaiki struktur masyarakat yang lebih adil, strategi yang harus ditempuh perempuan adalah bicara. Menurut Foucalt, untuk melawan struktur yang ada tidak adil pada perempuan, perempuan harus menjadi “subjek yang berbicara”yang juga berarti “subyek dari pernyataan”. Seperti yang dikatakan feminis Helen Cixous-feminis Prancis, sangat penting bagi perempuan memecah kebisuan teks dengan melancarkan strategi yaitu bicara dan menulis. (Jurnal HerStory, Edisi Maret 2002, Institut Perempuan)

Oleh karenanya, bukanlah hal yang mengherankan jika bahkan dalam “kesederhanaan” (baca: “kesunyiaannya”)nya, apa yang dilakukan perempuan bisa diinterpretasikan sebagai “pembangkangan”, “hari ini”. Dengan kata lain, tak apa jika:
“… .
Dan
biarkan puisi ini terus menerus menuliskan gejolaknya
sampai zaman lupa waktu
lupa…
bahkan sampai aku mati

Puisi adalah kehidupanku
puisi itu hidup!”

“Akulah Puisi”, lulu, 9 September 1993

Dengan bicara dan menulis, perempuan membangun hidupnya, pengetahuannya, meneguhkan pengalamannya…membangun persaudarian…mempengaruhi dunia…mengubah dunia… membangkang…
“… .

Des, ceritakan juga gubuk-gubuk tua
Tempat banyak perempuan desa
Dianiaya, dicerca, tak bersuara
Tersiksa batinnya atas nama status istri…aku juga
seorang istri
… .”

“Teruslah Menulismu”, olin, februari 2006

Dalam kesunyian saya, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kerja empat perempuan yang memilih menamakan mereka sebagai “perempuan bukan penyair” ini sebagai sebuah kerja politik yang “sunyi”. Namun dalam kesunyian inilah kemungkinan besar, setidaknya bagi saya, saya diperkenankan mengundang “hidup” dengan suka cita… .:

“… .
Di mana kamu… datanglah ke rahimku
dengan suka cita

“Darah Sialan”, oppie, oktober 2004

Comments (0)
Fri 16 Mar 2007
Surat dari Yogyakarta
Filed under: Biru Hitam Merah Kesumba — admin @ 2:17 pm

MENITI WARNA-WARNI KISAH DAN IMAJI
DALAM PUISI-PUISI: VIVIAN, LULU, OLIN, DAN OPPIE.

Oleh Iman Budhi Santosa

Pada suatu siang yang panas di pertengahan bulan Juli, ketika sedang membolak-balik naskah cerita anak yang akan diterbitkan oleh sebuah penerbit lokal Yogyakarta, tiba-tiba HP saya berdering. Ada pesan singkat masuk, di mana pengirimnya belum saya kenal. Yang menarik, pesan itu disampaikan menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah “yang baik dan benar”. Kata-katanya ditulis lengkap, utuh, tanpa banyak disingkat seperti kebanyakan SMS sekarang. Penulisannya runtut, tertib, tidak serampangan. Artinya, memakai titik koma serta tanda baca sebagaimana lazimnya menulis surat. Meskipun singkat terdapat salam buka, pemaparan isi, juga penutup. Pemilihan dan penempatan kata-katanya tepat. Susunan kalimatnya rapi, sehingga maknanya mudah dimengerti. Penyampaiannya pun terasa santun, penuh tata-krama, menggunakan unggah-ungguh yang bersumber pada adat tradisi budaya etnis di Tanah Air kita. Dengan penulisan seperti itu terkesan pengirimnya telah memiliki visi dan kemampuan yang bagus mengenai seleksi informasi yang akan disampaikan dan bagaimana menyampaikannya lewat kalimat-kalimat singkat, padat, jernih, sehingga tak membuat layar HP menyerupai tembok kota yang penuh coretan, atau koran, radio, atau televisi yang sering tumpang tindih dalam mengemas iklan dan informasi. Dan terakhir, mereka – karena pengirim SMS mengatasnamakan empat sekawan dan semuanya perempuan – mencantumkan nama masing-masing. Lengkap dan jelas. Tanpa embel-embel gelar yang menjadi penyangga identitas, status dan sebagainya, dan sebagainya. Agaknya, mereka benar-benar ingin hadir dan diterima sesuai kodratnya sebagai perempuan saja; tak lebih dan tak kurang.
Garis besarnya, SMS tersebut berisi semacam permohonan sekaligus undangan. Konon, mereka akan punya hajat dan saya diundang untuk menghadiri, atau ngestreni hajat tadi. Mengenai wujud dari hajat tersebut, dengan rendah hati mereka mengatakan, yaitu menerbitkan sebuah antologi puisi karya empat sekawan ini. Dua minggu kemudian, lagi-lagi di siang yang panas ketika saya sedang menemani tetangga sebelah merenovasi rumahnya yang retak akibat gempa, seorang kurir surat datang menyerahkan amplop tebal warna coklat. Isinya draft manuskrip antologi puisi berjudul: Biru Hitam Merah Kesumba karya kuartet perempuan Ibukota itu: Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta, dan Vivian Idris.
Malam harinya, mulailah saya mencoba bersilaturahmi dengan bayi-bayi puisi yang lahir dari gua-garba kreativitas mereka. Setapak demi setapak beranjak menyusuri relung labirin kata yang dibangun, mendedah, memahami serta mengurai simpul makna yang dikandungnya. Semoga lewat rasa aroma yang sengaja atau tak sengaja dihadirkan dalam totalitasnya, dari pesan kesan yang dibisikkan, dari sekian banyak kisah peristiwa yang tergambar, dari lekuk-liku pengalaman batin mereka yang berkelebat-kelebat melintas, dari warna-warni nuansa serta permainan imaji yang mengusung luapan perasaan dan hati mereka, dapat dipungut “sebutir dua butir biji sawi” yang manakala ditebar, disemai, diserahkan kembali pada alam dan habitatnya, akan tumbuh sebagaimana kodratnya menjadi Brassica rugosa baru yang bakal menemukan manfaatnya bagi kehidupan ini kelak kemudian hari.
Kesan pertama menikmati antologi puisi Biru Hitam Merah Kesumba, rasanya seperti benar-benar berkunjung ke sebuah rumah mungil yang indah, tapi letaknya entah di mana. Yang jelas, masih di Indonesia. Mungkin di Jakarta, mungkin pula di kota lain. Rumah itu dihuni pemiliknya, yaitu empat orang perempuan sebaya yang belum pernah saya kenal. Meskipun keempatnya bukan saudara kandung, tetapi mereka memiliki ikatan batin yang erat dan rumah itupun telah menjadi home bagi mereka. Di ruang tamu yang nyaman, teduh, keempatnya menerima saya. Seperti halnya orang baru, sambil berbincang-bincang saya mengamati bangunan rumah, arsitekturnya, hiasan serta perabotan yang ada di sana. Berlanjut pada dandanan yang dikenakan mereka, aksesori, tutur kata, juga perilakunya. Dari apa yang saya temui, baik yang tersirat maupun tersurat, suasana rumah dan penghuninya tak menunjukkan tanda-tanda khas. Misalnya, yang dapat menjadi petanda dari mana mereka berasal, apa pekerjaan mereka, pendidikan mereka, cita-cita mereka, dan selanjutnya. Yang tampak hanyalah keterbukaan, keramahan, kearifan, serta semangat persahabatan yang tulus antar manusia. Beberapa waktu kemudian mereka pun menyajikan hidangan yang berbeda-beda, yang katanya dibuat sendiri-sendiri oleh mereka. Nah, sehabis mencicipi hidangan mereka itulah saya baru menemukan awal kata yang (mungkin) memadai untuk menyemarakkan silaturahmi pertama saya dengan mereka.

* * *

Buah tangan pertama yang saya cicipi adalah karya Vivian Idris yang judulnya memiliki nuansa Jawa yang sangat kental: Nimas. Sajak ini sederhana, namun mengandung makna yang dalam mengenai hubungan batin laki perempuan. Kekuatannya terletak pada pemilihan dan penggunaan simbol-simbol sugestifnya serta model pencitraan batin (nonvisual) yang ditempuh guna mendukung terciptanya asosiasi dan suasana magis dalam sajak. Di sini agaknya Vivian ingin menggambarkan kesakralan cinta dan kasih sayang yang melandasi persenggamaan suami isteri sehingga membuahkan janin bayi. Sebagaimana lazimnya budaya perempuan Timur, Vivian lebih melihat peristiwa itu sebagai penyatuan roh laki-laki perempuan, dan bukan sekadar memenuhi tuntutan nafsu badaniah belaka. Dan manakala keduanya mampu memasuki (mencapai) tataran nonragawi itu, masing-masing akan melihat (dan mengetahui) hakikat dari penyatuan tersebut.
Proses itu dimulai ketika sang laki-laki (sebagaimana tradisi Jawa di mana laki-laki lebih banyak memimpin) membisikkan ajakan (ajarannya): “Berikan kepada malam matamu, Nimas!/Akan diciptakannya bintang-bintang untukmu”//. Memberikan mata pada malam, dapat diartikan sebagai menggunakan mata batin; bukan lagi mata kasar. Dengan demikian, meskipun terpejam atau berada dalam kegelapan, segalanya akan tampak, termasuk arti makna yang tersembunyi di dalamnya. Mengapa hal itu diperlukan dalam persenggamaan suami isteri, karena menurut ajaran kebatinan Jawa hubungan tersebut harus dilakukan dengan intens, santun, dan penuh tatakrama. Sedikit banyak dilarang (ditabukan) melakukan hal-hal yang vulgar atau berlebihan. Sebab, ada kepercayaan yang menyatakan bahwa seluruh nilai perilaku hubungan tersebut langsung tak langsung dapat mengimbas kepada sifat dasar janin bayi yang bakal hadir menjadi buah cinta keduanya.
Meskipun demikian, saya tidak tahu pasti apakah Vivian sengaja mengangkat fenomena ajaran kejawen di balik hubungan suami isteri itu, atau justru karena terpukau oleh ritualisasi peristiwanya yang demikian mendebarkan. Tatkala sepasang manusia “menari mengikuti liukan angin yang menyibakkan rambut/kita, jubah kita, dan membuyarkan susunan kertas-kertas…/Lalu kita berkejaran dengan malam dan nyanyian burung hantu yang mengundang bulan//. Yang menarik, ternyata Vivian juga terkesan melestarikan pandangan tradisional, bahwa keinginan memperoleh anak datangnya lebih besar dari fihak laki-laki. Atau, nyaris menjadi hak laki-laki. Sedangkan perempuan selalu difahami sebagai “empu” yang mengandung dan melahirkan bayi semata. Samar-samar pemahaman itu tersirat pada dua larik terakhir sajak ini: “Aku simpan gambar-gambar itu, Nimas!/Untuk jadi bingkisan pada minggu keempat puluh”//. Demikianlah seperti yang banyak terjadi, laki-laki akan sangat berterima kasih (yang disimbolkan sebagai: memberi bingkisan) pada isterinya karena telah memberikan anak, di mana nilai dirinya sebagai bapak akan terwujud, dan nilai isterinya sebagai ibu juga terpenuhi.
Sajak Vivian yang lain, yang masih menggarap seputar anak adalah: Anak Sayang. Lagi-lagi dengan ungkapan yang lembut imajinatif, ia menggambarkan bagaimana seorang ibu menina-bobokan anak kesayangannya. Sajak ini akan terasa lebih menarik jika dikaitkan dengan sajak Nimas di atas. Persoalannya, Vivian seakan meneguhkan bahwa anak yang dikandung perempuan sesungguhnya adalah “tamu”. Satu dari sembilan bulan (purnama) yang hidup menjadi tamu dalam rahimnya. “Dengar ceritaku tentang sembilan purnama/dan satu hidup jadi tamu dalam rahimku”//. Meskipun anak baginya adalah tamu, namun akhirnya dialah yang paling bertanggung jawab mengasuhnya; bukan laki-laki yang “mengirimkan rembulan yang menjadi tamu dalam rahimnya” tersebut. Dengan penuh tanggung jawab si ibu akan mengatakan: “Mari sini sayangku, Nak/Genggam jariku lalu mimpi/Sampai pagi kita pergi/mengayuh angin menumpang awan”//. Lewat kedua sajak di atas, Vivian telah mencoba membuat gambaran yang kreatif serta berani membuat pernyataan mengenai keberadaan anak dalam kehidupan suami isteri. Memang, pola pikirnya tidak terlampau baru, namun dari sana samar-samar kita seperti diingatkan bahwa ada sekian banyak nilai kearifan lokal yang sadar tak sadar masih berakar dalam diri kita dan diam-diam juga menjadi acuan hidup kita bersama. Seperti pernah dinyatakan Darmanto Jatman dalam puisinya yang berjudul Anak, bahwa: “anak bagai buah sukun yang menentukan tinggi rendahnya mutu kita sebagai pohon/anak adalah buah mangga yang menentukan layak tidaknya kita menjadi pohonnya”//.
Berbeda dengan puisi Vivian yang cenderung “diam” dan mengandalkan imaji-imaji sugestif yang individual, puisi Lulu Ratna terkesan lebih meledak keluar (atraktif). Tanpa harus mengetahui latar belakang pribadi dan pekerjaannya, dapat dibayangkan jika puisi-puisi dia lahir dari sekian banyak perjalanan, pertemuan dengan banyak orang, serta persentuhan maupun tarik-menarik nilai demi nilai yang ditemui di luaran. Meskipun demikian, ternyata Lulu tidak ingin menceritakan realitas di luaran tersebut secara an sich, melainkan semua yang dipungutnya lebih digunakan untuk landasan atau batu loncatan merenungkan, sekaligus cermin dalam menerjemahkan apa yang sedang berkelebat-kelebat dalam batinnya.
Dan di sanalah agaknya dia menemukan berbagai dimensi “Lulu” yang dicarinya selama ini. Salah satunya seperti dalam sajak yang berjudul: Tersesat. “Malam ini biru/aku mencari diriku/yang hilang dalam bibirmu/dan menemukannya/di pojok-pojok gelap kota/ternyata aku masih bisa pulang”//. Benar, hampir semua perjalanan akan berbahaya, menyesatkan, jika diri kita larut ke dalam riak-gelombang yang berdatangan menerpa. Luar biasa, dengan impresif dia berhasil menyodorkan sebuah snapshot kecil tentang seseorang (tentunya perempuan) yang lolos dari suatu permasalahan hidup yang gawat. Dan dahsyatnya ia menyelipkan salah satu matra yang (mungkin) dicuplik dari faham eksitensialisme. Yaitu, yang dimaksud pulang ternyata bukan ke rumah, atau ke orang tua, ke suami, melainkan “kembali ke diri sendiri”. Di sini tampak sekali bahwa rumah bagi aku adalah diriku. Bangunan rumah seperti yang kita kenal dan kita tempati selama ini hanyalah semacam “rumah kos” belaka.
Beberapa sajak Lulu yang lain banyak yang memiliki tema serta nuansa seperti sajak di atas. Dalam My Salvation misalnya. Dengan eksplisit di larik akhir sajak itu dia membuat pengakuan, “bahwa aku masih bisa diselamatkan/dari diriku sendiri”//. Jika pada sajak tersesat, diriku pada hakikatnya juga rumahku, pada sajak ini Lulu menunjukkan bahwa: diriku bisa juga menjadi musuhku. Lebih nyata lagi bagaimana dia mencoba mengartikan “aku” pada Puisi Ulang Tahun. Jelas dan tandas ia menulis: “ku terpukau pada sebuah keunikan dan keajaiban/kehidupan/sepotong baris-baris puisi/yang membentuk segumpal daging/seorang aku…”//. Di sini ia melihat, aku disamakan, dimaknai sebagai puisi. Persis dalam sajak Akulah Puisi di mana dengan agak verbal Lulu menyatakan bahwa puisi, hidup, dan aku nyaris adalah satu. Oleh karena itu “Puisi adalah kehidupanku/puisi itu hidup!”//. Dalam setiap perjalanan atau pengembaraan (baik fisik atau rohani) sering menyebabkan kebingungan, karena seolah di sana tak ditemukan apa yang dicari, atau tak ada apapun yang dapat dimaknai. Dalam situasi seperti itu, dengan tegar Lulu menuliskan rasa kesia-siaannya, sekaligus cara mengatasi kesia-siaan itu, dalam sajak Di Hari Aku Mengetahuinya. “Ya aku terpuruk, tapi belum kalah/begitu banyak drama dalam hidupku, tercipta olehku sendiri kebanyakan….//. Ya, hidup memang dapat kita permainkan. Karena itulah kita harus pandai-pandai menemukan permainan baru dalam memaknai kehidupan agar tak terjadi rasa sia-sia dan frustasi berkepanjangan. Mungkin caranya sederhana, seperti dibisikkan Lulu: “ah, hari senin besok masih akan ada hasil tes hepatitis!” Artinya, ada jutaan titik di celah kita melangkah yang terlewati begitu saja. Jika pada suatu saat memerlukan, ada baiknya jutaan nilai yang bertebaran itu kita cermati, dan dimunculkan ke permukaan untuk memberikan arti pada segala macam hiruk-pikuk yang kita hadapi.
Tak jauh berbeda dengan Lulu Ratna, sajak Olin (Carolina Monteiro) juga banyak mengekplorasi momen-momen yang ditemui dalam dinamika kehidupan nyata di masyarakat. Yang sedikit membedakan, jika Lulu berkutat dengan masalah kedirian, Olin justru berusaha menerjemahkan fenomena di luaran itu sebagaimana adanya. Lewat penyerapan mata batinnya ia merekam, memvisualkan banyak realitas dan peristiwa, seperti: “bapak tua shalat maghrib di bantaran sungai/ rombongan kelelawar bermigrasi ke utara/ sampai perbatasan riau jambi/ (Muara Gambok), atau “di dedaunan kelapa coklat/debu berkejaran/serambi kayu tua termangu// (Meniti Angin), atau: “bicara pada bukit-bukit Timor/berdiri songsong masa baru/gejolak rasa merdeka/desa-desa berjuang lelah…”/ (Kepada Bukit di Timor). Dan selanjutnya, lewat kesan kenangan yang ia peroleh, Olin menyisipkan gumam-gumam kecilnya yang dalam keadaan biasa tak mungkin menemukan saluran tepat untuk mengungkapkannya. Puisi Olin nyaris memainkan konfigurasi dan artikulasi seperti itu. Bahwa lewat kata, imaji, perlambangan, asosiasi, dan suasana puisinya ia menyebarkan makna dan kesimpulan-kesimpulan kecil di sana-sini. Olin ibarat seseorang yang tengah membuat taman dan menanaminya dengan bunga warna-warni, namun selanjutnya dia malah memilih menjadi capung yang berseliweran terbang menikmati kenyamanan taman itu.
Puisi-puisi Olin meskipun kata-katanya terkesan lugas dan verbal, cukup menarik juga ketika dengan enteng mengungkapkan: “Disingkapnya kain tenun kakinya memar kebiruan darah mengering/kepedihan itu jadi milikku sekarang” (Kepedihanmu Milikku Juga). Simak juga cara dia meluapkan kejengkelan yang unik pada larik ini: ”Mau jengkel/Pada siapa harus jengkel/…Dia menumpang bagai parasit menyedot darahku” (Marah dan Hormon). Cara Olin memainkan imaji dan memindahkan perhatian pembaca dari pengertian satu ke pengertian lainnya terasa plastis, segar. Tak terkesan dibuat-buat atau dilebihkan, kendati kadang bernada getir dan pahit. Begitu besarnya kecenderungan Olin untuk memainkan beragam temuan (atau pendapat) sempat mendorongnya sampai pada eksperimentasi membangun semacam teks-teks jargon yang puitis. Buktinya Olin sempat menulis dengan gaya “puisi mbeling” yang dulu pernah diletikkan oleh Remy Silado dan kawan-kawan. Contohnya: “Aih cinta memang hebat/sudah nyusahin/masih dibicarakan/masih pula dicari”// (Mencari Cinta).
Meskipun masih perlu diasah, dari larik-larik sajak Olin – paling tidak bagi saya – mengisyaratkan adanya ketangkasan dalam memahami dengan cepat bermacam aspek dan situasi di sekitar. Coba nikmati sejenak imaji yang dibangun ini: “Dan hari minggu menjadi senyap/Ketika hidup penuh dengan awan-awan malas” kemudian bergayut dengan larik akhir sajak: “Lewati sudut kosmos yang nelangsa/Ketika cinta tertulis dengan anehnya”/(Masa yang Berubah). Dengan caranya yang unik, Olin telah mengajak kita melakukan semacam pengembaran metafisik. Keluar masuk pengalaman demi pengalaman dalam khasanah jagat cinta yang rumit, kadang konyol, namun juga indah dan menggetarkan. Dengan enteng pula ia menempelkan sekian banyak fakta – sebagaimana informasi di koran – untuk mengganggu ketenangan mereka yang melintas. Hingga mau tak mau mereka pun berpaling dan berhenti sejenak, kemudian mencoba tahu: lukisan apa yang ingin disampaikan lewat rangkaian kata-kata Olin itu?
Sajian terakhir yang saya nikmati adalah puisi karya Opie Andaresta. Sebagaimana puisi Vivian, Lulu, dan Olin, puisi Oppie memiliki potensi yang lain lagi. Dibanding karya ketiga sahabatnya, sajak-sajak Oppie terkesan yang paling kaya isi, imaji, serta paling rame mengutarakan kisah-kisah kehidupan yang ingin dipanggungkan. Seperti: “Kekasih gelapku…kekasih dalam hatiku…/Terlalu malu aku untuk kecewa karenamu”/(Kekasih), atau: “Terlalu nyaman aku berdiam damai di ketersembunyianku yang indah/Merasakan sensasi dan gairah rasa keperempuananku/Astaga…aku butuh selimut untuk bersembunyi dari pikiran liarku”/ (Berubah), kemudian lagi: “Lihatlah, para lelaki, bergegas ambil posisi selepas azan/betapa indah mereka, saat khusyu dan memasrahkan diri padaNya/perempuan di sampingku ucapkan salam dan menjabat tanganku/aku ada dan nyata….”// (SMS Dikie).
Dalam puisi Oppie, realitas kehidupan tampak demikian nyata, verbal, mengalir sebagaimana dimaui penulisnya. Seolah dia tak berpretensi untuk mengatur, menata dengan teknik dan pola yang lazim, melainkan ingin semua itu dijadikan kerangka buat dirinya bermain, memamerkan pesan dan keindahan yang hendak dikomunikasikan. Bagi saya, puisi Oppie terkesan seperti sebuah sarang laba-laba. Sementara si laba-laba tidak tinggal (berada) di dalam sarang tersebut, tetapi tinggal di luarnya agar dirinya bebas mengekspresikan kepuisiannya. Seperti peribahasa Cina yang mengatakan: “Ulat sutera menenun kepompong dan tinggal di dalamnya, karena itu dia terkurung; sedangkan laba-laba menenun sarang dan tinggal di luarnya, karena itu dia bebas”.
Ekspresivitas puisi Oppie terasa menonjol dan kuat lantaran dia sengaja mengusung cuplikan-cuplikan peristiwa hidup keseharian yang juga akrab dan dirasakan banyak orang. Contohnya, bagaimana pun setiap orang (laki perempuan) akan mengalami kegelisahan menjelang pernikahannya. Kasus ini dipaparkan Opie dengan nada dan suasana hati keperempuanannya yang khas. “Di sini aku belajar hidup lagi dengan peran baruku yang perempuan/Bunda, apakah aku harus gelisah atau bahagia/Pegang tanganku biar aku tetap berpijak, seperti ketika kauajari aku melangkah dulu…”/Perawan menjelang 27 tahun itu, sekarang 27 tahun, dan tidak perawan lagi” (Perawan). Perhatikan juga gambaran situasi yang nyaris nyata dalam: “musikku tak lagi sumbang, tarianku ringan…/aku lepas tak terbatas, tak usah waras,/tak perlu kesadaran tak butuh aturan…aku ingin hidup…/lalu aku menyanyi keras-keras, berputar cepat/tertawa panjang, merokok seribu batang, bangun siang dan tak lupa doa…”/(Cerita Teman).
Demikianlah selintas silaturahmi saya dengan puisi-pusi Vivian, Lulu, Olin, dan Oppie. Bukannya mengada-ada jika setelah menikmati karya-karya mereka saya berani mengatakan bahwa dalam diri mereka tampak adanya bakat kepuisian yang terpendam. Di sana-sini terasa mereka telah menemukan “simpul-simpul pesan” dan memaparkannya dengan ungkapan puitik yang indah dan bermakna. Hanya saja, orisinalitas pembahasaan mereka masih perlu diasah dan ditingkatkan. Ibarat dawai gitar atau biola, tegangannya perlu disesuaikan dengan denting garpu tala agar diperoleh nada dasar yang tepat seperti diinginkan. Jadi, sebenarnya mereka tak perlu merendah dengan memberi label kumpulan ini: “Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair”. Karena, menulis puisi bukannya monopoli penyair. Puisi boleh ditulis oleh siapa saja, dipersembahkan pada siapa saja, dan juga digunakan untuk apa saja.
Secara pribadi saya “angkat topi” pada empat sekawan ini yang mulai merambahkan kreativitasnya ke dunia puisi. Satu-satunya genre sastra (dan kesenian) yang tak menjanjikan apapun bagi kreatornya, kecuali sunyi dan kearifan yang hakiki. Mungkin, semangat menulis puisi sama halnya elan vital para guru, yang rela memberikan apapun yang dimiliki pada murid-muridnya. Agar murid-murid itu nanti dapat menyadari bahwa kehidupan sungguh terlalu besar untuk dijadikan objek penelitian keilmuan melulu, dan juga terlampau agung untuk tidak diakui dan dirayakan dengan kata-kata yang membuat setiap manusia menemukan dan merasakan bermacam nilai, keindahan, dan kebebasannya.
Konon, kata T.S. Eliot, puisi sejati itu sudah berkomunikasi sebelum dimengerti. Sedangkan menurut Joseph Roux, puisi adalah kebenaran yang sedang berhari minggu. Dan untuk antologi Biru Hitam Kesumba Merah (Merah Hitam Biru Kesumba) ini, mungkin Vivian, Lulu, Olin dan Oppie perlu merenungkan ucapan tokoh nasional kita Haji Agus Salim (alm): “Jangan dipuji suatu hari sebelum datang maghribnya.”
Demikian, semoga bermanfaat. Salam kreatif.

Yogyakarta, 3 Agustus 2006

Comments (0)
Fri 16 Mar 2007
Pengantar dari Editor Biru Hitam Merah Kesumba
Filed under: Biru Hitam Merah Kesumba — admin @ 2:15 pm

From: Anna Mailed-By: yahoo.com
To: Vivian, Lulu, Oppie, Olin “perempuanbukanpenyair@yahoo.com”
Date: Jul 17, 2006 6:42 PM

Subject: biruhitamkesumbamerah

Reply | Reply to all | Forward | Print | Add sender to Contacts list | Delete this message | Report phishing | Show original | Message text garbled?
dear gals,

Apa yang membuat orang lebih mudah menuangkan isi hati lewat puisi ketimbang prosa? Menurut pengalaman saya, puisi lebih disukai karena sifatnya yang pribadi/ personal. Ia tak perlu memberi makna sama pada pembacanya. Bagi pengarang/ auteur, puisi menjadi sesuatu yang rahasia karena dimengerti hanya untuk dirinya sendiri. Terserah pemahaman orang lain mau seperti apa.

Karena kepersonalannya itu, puisi dibolehi menabrak kaidah-kaidah. Toh, tak seorang pun berhak menentukan perasaan. Tak seorang pun berhak mengatur bagaimana reaksi seseorang terhadap sesuatu.

Puisi yang baik biasanya lahir dari kejujuran si pengarang; merupakan ungkapan hati si penulis. Puisi menjadi indah saat dibaca orang lain lalu si orang lain ini merasa terwakili oleh puisi itu. Orang lain merasa bahwa puisi itu ditujukan untuk dirinya. Maka itu, ada yang bilang keindahan puisi terletak pada sifat simbolisnya.

Oke gals, sekian dulu ya. Aku dah telat pulang nih… bubyeee….
Anna (Mariana Setiawati)
________________________________________

Comments (0)
Fri 16 Mar 2007
Launching Biru Hitam Merah Kesumba 6 December 2006
Filed under: Flash Poetries — admin @ 2:04 pm

Yang Bukan-Penyair
Bisa Ambil Bagian
oleh SENO GUMIRA AJIDARMA

Judul buku kumpulan puisi ini adalah Biru Hitam Merah Kesumba dan perhatikanlah lanjutannya: Kumpulan Puisi Perempuan Bukan Penyair.
Perhatikan lagi, mula-mula Perempuan, kemudian Bukan Penyair.
Secara tidak produktif, ini bisa ditafsir sebagai “dua kali diskriminasi diri”: pertama, bahwa dengan sebutan “perempuan” maka mohon penakarannya sebagai puisi dibedakan dengan jenis kelamin lain yang “bukan perempuan; kedua, apalagi “bukan penyair” pula, sehingga bisa dibaca sebagai permintaan maaf, basa-basi atau tidak, bahwa puisi-puisi dalam buku ini bukanlah “puisi beneran” seperti layaknya yang akan dipertaruhkan oleh seseorang yang mengakui dirinya seorang penyair.
Dengan istilah tidak produktif, saya maksudkan bahwa mereka yang melakukan pembacaan negatif, karena istilah Perempuan Bukan Penyair tadi, akan rugi karena menghapus peluang untuk mendapatkan makna dari buku ini. Saya tidak mau rugi, maka saya lebih suka membacanya secara produktif: pertama, bahwa keempat penulis puisi-puisi dalam buku Biru Hitam Merah Kesumba ini, yakni Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta, dan Vivian Idris, memang perempuan; kedua, istilah “bukan penyair” adalah kode yang membebaskan saya untuk tidak usah mencari-cari sesuatu dalam kriteria baku estetika sastra. Sebaliknya, saya harus mendapatkan, setidaknya demi diri saya sendiri, sesuatu yang membuat puisi-puisi ini bermakna dalam pembacaan saya.
Judul buku ini, Biru Hitam Merah Kesumba, rupanya menunjukkan pula bagaimana cara buku ini disusun, yakni terdiri dari empat bagian yang masing-masing berjudul seperti warna-warna tersebut. Apakah ini warna masing-masing keempat penulis puisi? Agaknya bukan begitu, karena dalam setiap bagian terdapat puisi-puisi keempat penulis yang barangkali dianggap mempunyai kesamaan nuansa seperti yang ditunjukkan oleh warna-warna tersebut. Dengan kata lain, keempat penulis mencari kesamaan dalam perbedaan mereka ketika menyusun buku ini. Saya sendiri tidak ingin terlalu setia dengan penyusunan tersebut, dengan misalnya mencari “merah” dalam Merah, melainkan membacanya urut begitu saja, dan inilah komentar saya—yang tidak akan urut.

***

Saya pikir, sebuah puisi hanya menjadi puisi apabila dalam dirinya terdapat kejernihan, meskipun itu adalah kejernihan sebuah catatan seperti Postcard Journey yang ditulis Lulu Ratna di Amsterdam, 9 September 2003, berikut:

It’s where the wind blows
the path that I always follow
for as far as I can be
to dive the world I’ve never seen
to hug the people I long to see
just to feel not all alone

Seperti hanya catatan, tetapi kejernihan membuat nada tenang dalam permenungan itu puitik. Ini bukan berarti takboleh ada “curhat” membuncah-buncah dalam puisi. Perhatikan Rahwana yang ditulis Vivian Idris.

Rahwana. Setan Alas! Sering kutemui dia menyeruak dari dasar mimpi.
Berteriak, pekak, mengoyak kelambu malam. Menjejak air liur pada lipat-lipat
Selimut. Memaksa untuk berbagi tidur.

Terlambat untuk mengelak!

Aku kerasukan hangat tubuhnya. Meruap harumnya. Terpikat hasrat untuk tersesat. Terbayang nikmat menggeliat dalam pekat. Melekat matanya berkilat.
Napasku sarat tersengal. Sungguh mimpi keparat. Mengelabui hasrat untuk terbakar. Hangus bersamanya.

Oktober 2005

Segenap kata meluncur dan mengisi kebutuhan dengan tepat. Hanya bisa dilakukan orang yang sering menulis puisi—dan apalah kalau bukan penyair itu namanya? Namun saya tidak ingin berdebat dalam argumen kebahasaan, karena yang membuat saya juga merasa mendapat sesuatu adalah justru ketika mengenali tema-tema khas dengan idiom gender di dalamnya, tanpa peduli pembahasaannya. Oppie Andaresta misalnya menulis tentang keperawanan dalam Perawan. Dikatakannya dalam akhir puisi itu:

Bunda, apakah aku harus gelisah atau bahagia
Pegang tanganku biar aku tetap berpijak, seperti ketika kau ajari aku
melangkah dulu.
Perawan menjelang 27 tahun itu, sekarang 27 tahun, dan tidak perawan
lagi.

Dalam puisi lain, Darah Sialan, ia menulis yang hanya mungkin ditulis perempuan:

Darah sialan itu masih saja keluar
selalu tepat waktu
Tapi sekarang kacau jumlahnya
Padahal sudah mereka ambil daging kecil itu di suatu pagi di ruang berdinding putih yang dingin dan tak ramah.
Aku baik baik saja –semoga aku tak salah, katanya aku juga baik-baik saja—semoga memang baik
tak lelah dan tak dingin, dan kita punya cinta yang berujung orgasme
serta telur yang matang bagus…
tapi bulan itu terus juga datang
Mereka beriku kimia lagi, aku disuruh mengangkang
–alu mereka masukkan besi dan semprotkan cairan ke vaginaku…
aku kaku, berkeringat menahan nyeri…
Di mana kamu… datanglah ke rahimku dengan suka cita

Oktober ‘04

Saya tidak menganggap diri saya orang yang tepat untuk membicarakan wacana feminis, meskipun itu mestinya takterhindarkan dalam konteks puisi-puisi dalam buku ini—justru karena keempat penulis puisi mengaku sebagai “… kami semua adalah ibu rumah tangga yang sebagian waktu dan energi kami telah dikapling untuk kepentingan jabatan tersebut.” Namun izinkan saya untuk sekadar mencatat bahwa ternyata sampai di dalam puisi pun tiada habis masalah “tetek bengek” perempuan seperti menstruasi, keperawanan, mengandung, melahirkan, menyusui, birahi, dan tentu saja cinta tetap meninggalkan jejaknya—karena yang disebut tetek bengek ini toh bukan tetek bengek sama sekali, melainkan bagian dari keperempuanan. Apa yang mungkin boleh disebut “keperempuanan” juga terlacak dalam puisi Olin Monteiro ini.

Marah dan Hormon

Mau marah
Pada siapa harus marah
…Dia tumbuh tanpa pupuk atau penyubur

Mau jengkel
Pada siapa harus jengkel
…Dia menumpang bagai parasit menyedot darahku

Mau nangis
Pada siapa menangis
…Dia lemah berharap dari serat-serat lemakku

Mau teriak
Pada siapa berteriak
…Dia janin berkembang tanpa sadar di mana berada

Marah kepada hormon, atau kepada siapa …?

Oktober, 2005

Pertanyaannya, apakah hanya “keperempuanan” yang jadi andalan para penulis puisi ini? Pertanyaan ini penting, karena pemahaman “tradisional” yang penuh bias dari “ibu rumah tangga” adalah kegiatan yang berkutat di sekitar rumah: anak, dapur, dan gereja, kata orang Jerman. Padahal, tidakkah di rumah hanya terdapat Tikus Sialan dalam puisi Oppie Andaresta?

Tikus sialan mengobrak-abrik moodku
Tahinya ada di dekat gitarku
nada di kepalaku hilang, komputerku nyala kaku, tak keluar suaranya
tikus masih sembunyi di kamarku entah di mana
padahal aku menunggu ilham, mencari ide cemerlang
mandek lagi… selalu saja ada halangan
mungkin aku kurang mandi kembang

puri, Okt 05

Lebih serius dari sekadar tikus. Periksalah puisi Vivian Idris ini:

Sia-sia Pulang

Rumah ini sudah bukan rumah
tiang-tiangnya asing dan berpaling
langit-langitnya sinis bikin asa teriris

Padahal aku pulang untuk damai
karena diam membentur rindu
setelah waktu merawat luka
sudut ini dulu hangat merekahkan tawa
kini dingin, kelam, celaka

Berapa lamakah aku telah pergi?

Sia-sia aku pulang dengan rindu
harapan runtuh menimpa kepalaku

29.11.1997

Celaka betul bukan? Perempuan telah terlempar dari rumah dan mau tidak mau menjadi bagian dunia di luar rumahnya. Ibu rumah tangga di Jakarta tidak bisa lagi hidup hanya di dalam rumahnya sendiri. Lulu Ratna menulis dari dalam bis, Antara Cirebon-Salatiga.

Menebak kota berikut apa yang muncul
berkejaran dengan laju bis ini
berkejaran dengan waktu yang berlari
Penat berimpit kursi bus yang berdesakan
Brebes
Pekalongan
Kendal
Semarang
Pemalang
Tegal
Batang
Ungaran
Semuanya merayuku untuk singgah
mungkin di lain waktu bila ada
mereka tak hanya papan selamat datang
atau pelengkap kota yang harus dilangkahi
sekilas mengenang Cirebon yang ramai
sepintas mencoba mereka-reka Salatiga
Ah, lelahku tak sia-sia

Salatiga, 21.47 wib, 1 Januari 2006.

Demikianlah dari puisi demi puisi, terbentuk suatu dunia, bisakah disebut dunia perempuan? Jangan lupa, dunia itu juga menampung lelaki di dalamnya. Puisi Ibu oleh Oppie Andaresta atau Anak Sayang oleh Vivian Idris memang bagaikan monopoli perempuan (meski banyak juga lelaki begitu), tetapi puisi Olin Monteiro yang bagus kalau dibikin lagu ini saya kira sungguh memberi tempat lelaki, tanpa harus berarti tergantung kepadanya.

Mencari Cinta

Cinta lagi cinta lagi
kalau jauh kangen
kalau ketemu nggak bisa ngomong
gimana begini

Dari dulu sampai sekarang
yah masih sama saja
rindu dendam enggak terungkap
hari-hari jadi melilit

Jatuh cinta memang indah
memelihara cinta itu gerah
putus cinta mau bunuh diri
jadi cinta itu aneh sekali

Ada enggak ada
jadi topik pembicaraan seru
cinta itu begini
cinta itu ya begitu

Aih cinta memang hebat
sudah nyusahin
masih dibicarakan
masih pula dicari

23 Januari 1998

Dalam Criticism and Truth (1966), Roland Barthes menyebutkan tiga bentuk hubungan pembaca dengan teks, yang saya kira menjadi embrio teori tiga tahap pembermaknaannya yang terkenal. Pertama adalah science, yang membebaskan teks dari maksud pengarang; kedua, criticism, yang justru memproduksi maknanya; dan ketiga, reading, yang mengartikulasikan pemikiran, berdasarkan hubungan pembaca dan teks yang melibatkan suatu hasrat—dan yang belakangan ini berada di luar kode bahasa. Saya juga ingin membicarakan lebih banyak puisi sebetulnya, karena hasrat untuk melihat posisi baru “ibu rumah tangga” abad XXI, yang peluangnya banyak dibuka oleh puisi-puisi dalam buku ini.
Namun sebuah pengantar mestilah proporsional, yakni dalam porsi mengantar dan bukan bergaya sendiri. Cukuplah saya katakan, dengan segenap catatan ini sebetulnya terbaca betapa “dua kali diskriminasi diri” tak berlaku lagi. Bukan sekadar karena penyair lelaki “kurang beruntung” tidak menghayati pengalaman batin menstruasi, tetapi juga bahwa posisi “bukan penyair” tidaklah harus dianggap inferior berhadapan dengan superioritas kepenyairan. Standar estetik bahasa hanyalah konsensus sosial yang membela kepentingan kelas para pemegang hak eksklusif atas kata-kata. Dengan kata lain, legitimasinya boleh dibongkar dengan menawarkan konsensus lain, demi kepentingan lain—yang barangkali juga lebih inklusif. Istilah “bukan penyair” dengan begitu jelas bukan sekadar tidak inferior, melainkan tanpa sengaja terposisikan sebagai resistensi terhadap hegemoni para penyair superior yang dominan. Jika Chairil Anwar berkata: “Yang bukan-penyair tidak ambil bagian,” maka keempat ibu rumah tangga ini telah melawan mitos superioritas penyair –lelaki maupun perempuan—tersebut: “Yang bukan-penyair bisa ambil bagian.”
Secara demikianlah buku ini telah bermakna bagi saya.

Salam

Seno Gumira Ajidarma

Pondok Aren, Selasa 3 Oktober 2006. 07:54.

Comments (0)
Fri 16 Mar 2007
Kronologis perjumpaan Perempuan Bukan Penyair
Filed under: Biru Hitam Merah Kesumba — admin @ 2:02 pm

Kronologis Perjumpaan Perempuan Bukan Penyair di Jakarta

1990 Oppie dan Olin bertemu pertama kali saat kuliah di jurusan Komunikasi IISIP, Lenteng Agung.

1991 Mobil Oppie tak sengaja menabrak mobil alm. Pak Idris (Ayah dari Vivian) di Jalan Perdatam, Jakarta Selatan. Inilah kali pertama Vivian mengenal Oppie via KTP.

1992 Lulu berkenalan dengan Oppie saat intens bergaul di Gang Potlot.

1998 Perkenalan Olin dengan Vivian terjadi pada gerakan reformasi ’98 di Kantor GSJ, Jl. Borobudur, Jakarta Pusat. Pada tahun yang sama Olin dan Lulu bertemu di PPHUI pada sebuah pemutaran film, namun keduanya mengaku lupa event apa yang mempertemukan mereka. Di tahun ini ide penerbitan antologi puisi untuk pertama kalinya dibicarakan oleh Lulu dan Olin.

2001 Vivian berkenalan dengan Lulu pada sebuah pertemuan tentang film di Kafe Palem, Kemang. Kafe ini sekarang sudah tidak ada lagi, jadi tidak perlu dicari.

2005 Vivian bertemu muka langsung dengan Oppie. Pada pertemuan ketiga ia membongkar rahasia KTP dan kecelakaan mobil 14 tahun lalu. Di tahun ini juga, Lulu, Olin, Oppie, dan Vivian sepakat untuk bersama menerbitkan puisi-puisi curhat mereka ke dalam sebuah antologi.

Comments (0)
Wed 28 Feb 2007
Hello world!
Filed under: Flash Poetries — admin @ 10:22 am

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Comments (1)
19 queries. 0.810 seconds. Powered by WordPress
Theme Flying on the Sun is a rUn3 Production by st3fo